...أَهْلاً وَسَهْلاً...Welcome...Sugeng Rawuh...
Selamat Datang...
INSYA ALLAH kami akan selalu memberikan manfaat buat Pengunjung......

Selasa, 17 Februari 2009

Kajian Hadis



Kajian llmu Hadis

Kajian tetang hadis dise­but ‘Ulum al-Hadis. Berbagai karya menyangkut kajian tersebut meliputi bermacam aspek dan telah ditulis oleh banyak ahli dari berbagai kalangan.
Orang pertama yang mencoba menyusun sebuah karya yang menyeluruh ialah Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi (265-360 H), yang menulis sebuah karya panjang terdiri atas tujuh bagian yang berjudul al-Muhaddits al-Fasil bain ar-Rawi wa al-Wa’iz (Ahli Hadis yang Memisahkan Antara Rawi dan Pemberi Nasihat).
Al-Hakim an-Naisaburi
telah menulis sebuah karya yang lebih sistematis dengan judul Ma’rifah ‘Ulum al-Hadis (Ma'rifat llmu Ha­dis), yang dibagi ke dalam 52 kategori, yang me­rupakan model tulisan yang diikuti oleh banyak penulis sesudahnya.
Karya Ibnu
Shalah
, ‘Ulum al-Hadis (llmu Hadis), yang dipandang sebagai karya klasik dalam hal ini, mengandung 65 kategori. Kajian tersebut mencakup secara terperinci ber­bagai pokok persoalan yang menyangkut peringkat hadis dan para rawi, cara mempelajari dan meriwayatkan hadis, aturan tentang detail-detail tulisan tangan hadis, cara membuat koreksi yang diperlukan terhadap sebuah manuskrip, dan bahkan me­nyangkut periwayatan mulai berlangsung dan berhenti.

llmu hadis terbagi atas dua bagian besar, yaitu ilmu hadis riwayah dan ilmu hadis dirayah.

llmu Hadis Riwayah.
Bagian dari ilmu hadis yang mempelajari cara-cara penukilan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan hadis (segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muham­mad SAW berupa perkataan, perbuatan, dan ikrar). Tujuannya adalah menjadikan Nabi SAW sebagai suri teladan dan terutama untuk memahami hadis Nabi SAW sebagai penjelas wahyu Al-Qur’an.

Ulama pelopor dalam bidang ilmu ini ialah Muhammad bin Muslim bin Ubaidullah bin Abdul­lah bin Syihab az-Zuhri (51-124 H), seorang imam dan ulama besar di Hedzjaz dan Syam (Suriah). la adalah orang pertama yang menghimpun hadis Nabi SAW atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Umar II, memerintah 99-102 H/717-720 M).

Yang menjadi objek kajian ilmu hadis riwayah adalah
(1) cara periwayatan hadis, yang meliputi bagaimana cara penerimaan hadis dan penyampaiannya kepada orang lain.
(2) penulisan atau pembukuan hadis. Dengan demikian ilmu ini tidak berkompeten membicarakan ke-tsiqah-an (tsiqah = terpercaya) rawi dan kejanggalan/kesalahan matan hadis karena hal tersebut bukan merupakan objek kajian ilmu hadis riwayah.

Sebelum Al-Qur’an selesai ditulis, para sahabat secara resmi dilarang menulis hadis, sehingga hadis tersebut disimpan melalui hapalan para sahabat. Pada sisi lain, Nabi SAW dalam berbagai perkataan, perbuatan, dan takrirnya, tidak selalu dalam kondisi yang sama. Maka dalam transmisi (peri­wayatan) hadis ini terdapat beberapa faktor yang menjamin terpeliharanya keaslian hadis sejak pe­nerimaan pertama dari Rasulullah SAW sampai masa hadis dibukukan, yaitu:

(1) cara Nabi SAW berbicara perlahan-lahan, tegas, dan jelas, bahkan sering mengulangnya sampai tiga kali.
(2) Nabi Muhammad SAW menyampaikannya dengan fasih (Nabi SAW dikenal sebagai seorang yang fasih dan balig [menggunakan bahasa yang baik dan benar] atau ana afsahu min nutqi fi ad-dad).
(3) Nabi SAW sering menyesuaikan dialeknya dengan dialek lawan bicaranya.
(4) para sahabat yang menerima hadis sangat hormat kepada Nabi SAW dan memandangnya sebagai idola mereka.
(5) sahabat yakin betul bahwa apa yang diucapkan Nabi SAW mengandung makna yang dalam sehingga mereka mendengarkannya dengan tekun.
(6) orang-orang Arab memiliki kemampuan menghapal yang luar biasa;
(7) pada tingkat tabiin, transmisi hadis dan keasliannya juga dijamin oleh anggapan para tabiin bahwa apa yang diterimanya itu semuanya adalah sesuatu yang berharga.

Adapun periwayatan (transmisi) hadis oleh para sahabat, tabiin, dan tabi’ at-tdbi’in (setelah generasi tabiin) dilakukan dengan dua cara, yaitu :
(1) periwayatan dengan lafal (riwayah bi al-lafzi).
(2) periwayatan dengan makna (riwayah bi al-ma’na).

Periwayatan dengan lafal adalah periwayatan yang disampaikan sesuai dengan lafal yang dikatakan oleh Nabi SAW secara persis. Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan dengan lafal ini sangat sedikit jumlahnya. Ciri-ciri hadis yang diriwayatkan dengan lafal ini antara lain:
(1) hadis-hadis tentang doa.
(2) dalam bentuk muta’abbad (sanadnya memperkuat hadis lain yang sama sanadnya), an­tara lain tentang azan dan syahadat.
(3) tentang jawami’ al-kalimah (kata-kata yang padat dan da­lam pengertiannya).

Adapun periwayatan hadis dengan makna adalah hadis yang diriwayatkan sesuai dengan makna yang dimaksudkan oleh Nabi SAW, meskipun dari segi redaksi terdapat perubahan. Kebanyakan hadis Nabi SAW diriwayatkan dalam ben­tuk ini karena Rasulullah SAW memberikan isyarat bahwa meriwayatkan hadis dengan riwayah bi al-ma’na dibolehkan. Namun dalam hal ini dituntut syarat-syarat yang sangat ketat, yaitu:
(1) yang me­riwayatkan hadis tersebut paham betul isi dan kandungan hadis yang dimaksud.
(2) Rawi tersebut harus memahami secara luas perbedaan-perbedaan lafaz muradif (sinonim) dalam bahasa Arab.
(3) Rawi tersebut hanya lupa lafadz hadis yang disam­paikan Rasulullah SAW, sementara maknanya diingat secara persis.
(4) Muslim.
(5) Baligh.
(6) 'Adil.
(7) Dhabit (cermat dan kuat).

Dalam hal periwayatan hadis, masalah lain yang menjadi bahasan adalah at-tahammul (sigat at-tahammul atau sigat al-isnad) dan al-‘ada’. At-Tahammul adalah cara atau praktek seseorang dalam menerima hadis dari guru (syekh) nya. Adapun al-‘ada’ adalah cara atau praktek yang ditempuh oleh seorang rawi dalam meriwayatkan hadis kepada pihak yang menerimanya.

Ilmu Hadis Dirayah adalah Ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan ha­dis, sifat-sifat rawi, dan Iain-lain. Sasaran kajiannya adalah keadaan matan, sanad, dan rawi hadis. Adapun kegunaannya adalah untuk mengetahui dan menetapkan maqbul (diterima) dan mardud (ditolak) nya suatu hadis. Dirayah secara bahasa berarti pengetahuan dan pengenalan.

Penelitian terhadap rawi untuk mengetahui di­terima atau ditolak riwayatnya meliputi penelitian tentang keadaannya pada waktu menerima dan menyampaikan hadis kepada orang lain, dan sifat tercela atau adil yang dimilikinya serta pengetahuan tentang negeri, keluarga, kelahiran, dan wafatnya. Penelitian tentang hal ihwal yang diriwayatkan (sanad dan matan hadis) menyangkut syarat-syarat periwayatan ketika menerima dan menyampaikan hadis kepada orang lain, bersambung atau terputus sanadnya, pengetahuan tentang cacat-cacatnya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan diterima atau ditolaknya hadis tersebut.

Ilmu dirayah menjadi alat bagi ilmu riwayah. Sekalipun ilmu dirayah telah menjadi pembahasan para ulama sejak abad ke-2 H, namun ilmu ini belum dibahas secara khusus dalam sebuah kitab tertentu. Baru pada masa Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi pembahasan mengenai ilmu ini dituangkan dalam sebuah karya tulis.

Ilmu hadis dirayah bertujuan untuk menetapkan diterima atau ditolaknya sebuah hadis dan selanjutnya dapat dipertimbangkan untuk diamalkan atau ditinggalkan. Ilmu ini disebut juga ‘ulum al-hadis (ilmu hadis), mustalah al-hadis (ilmu mustalah ha­dis), atau ‘Ilm usul al-hadis (ilmu dasar hadis). Berdasarkan keterangan di atas, seseorang yang mendalami hadis tidak dapat melepaskan diri dari ilmu hadis dirayah sebagaimana juga ilmu hadis riwayah karena dengan ilmu itulah ia dapat membedakan antara hadis yang diterima dan yang ditolak.
Kajian ilmu hadis dirayah sangat luas, sehingga banyak cabang-cabangnya.
Imam as-Suyuti mengatakan bahwa cabang-cabang ilmu itu banyak sekali sehingga tak terhitung. Ibnu Salah (ahli ha­dis; w. 642 H/1246 M) menyebutkan enam macam dan setiap macam bisa berkembang menjadi tak terbatas. Namun al-Hafiz bin Kasir (ahli hadis; w. 774 H) mengomentari bahwa pembagian Ibnu Salah tersebut dapat ditinjau kembali.

Ilmu hadis dirayah memiliki cabang-cabang yang berkaitan dengan sanad dan rawi, dan matan hadis. Cabang-cabang yang berkaitan dengan sa­nad dan rawi yang terpenting di antaranya ialah ‘Ilm al-jarh wa at-ta’dil, ‘Ilm rijal al-hadis, dan ‘ilm tabaqat ar-ruwat. Adapun yang berkaitan dengan matan hadis adalah ‘Ilm garib al-hadis, ‘ilm asbab wurud al-hadis, ‘Ilm tawarikh al-mutun, ‘Ilm talfiq al-hadis, ‘ilm at-tasif wa at-tahrif, dan ‘Ilm an-nasikh wa al-mansukh.

Ilm al-jarh wa at-ta’dil adalah ilmu yang membahas hal ihwal rawi dengan menyoroti kesalehan (‘adalah) dan kejelekannya, sehingga dengan demikian periwayatannya dapat diterima atau dito­lak. Untuk menunjukkan kekuatan periwayatan se­seorang digunakan ungkapan-ungkapan tertentu, seperti “orang yang paling terpercaya”, “orang yang teguh lagi teguh”, dan “orang yang tidak cacat”. Untuk menunjukkan kelemahan periwayatannya digunakan ungkapan, seperti “orang yang paling dusta”, “orang yang perlu diteliti”, dan “orang yang tak dikenal”.
Berkaitan dengan ‘ilm al-jarh wa at-ta’dil, para ahli hadis menggunakan istilah-istilah yang meliputi jarh, tajrih, ‘adl, dan ta’dil. Jarh adalah penolakan seorang ahli hadis terhadap riwayat seorang rawi karena adanya indikasi tentang cela perangai atau riwayatnya. Para ulama merumuskan sebab-sebab jarh sebagai berikut.
(l)Al-bid’ah atau bidah (menambah-nambah urusan agama). Bidah ada dua macam, yakni yang berat dan yang ringan. Pada bidah yang berat, pelakunya dipandang keluar dari agama. Pada bidah yang ringan, pelakunya tidak keluar dari agama. Rawi yang terbukti melakukan bidah yang berat, riwayatnya langsung ditolak. Rawi yang melakukan bidah yang ringan, riwayat­nya yang sesuai atau sejalan dengan perbuatan bidahnya tersebut ditolak dan yang tidak sejalan boleh diterima.
(2) Al-jahalah atau tidak dikenal/ asing. Al-jahalah juga ada dua macam, yakni jahalah al-‘ain atau tidak dikenal siapa rawi tersebut dan jahalah al-hal atau tidak dikenal siapa rawi itu secara lebih jauh (kepribadian, keadaan, dan Iain-lain). Riwayat kedua macam rawi tersebut ditolak.
(3) Al-galat atau tidak kuat/kacau/salah hapalan. Semakin banyak riwayat dari seorang rawi yang tidak selaras, apalagi berlawanan, dengan riwayat-riwayat lainnya, maka semakin galat rawi tersebut; demikian pula sebaliknya. Bagian ini, menurut para ulama, mencakup pula syazz (mengandung kejanggalan-kejanggalan) dan da’wah al-inqita’ (seorang rawi menyebut rawi di atasnya yang ia sendiri diduga kuat tidak pernah bertemu dengannya).

Tajrih adalah identifikasi terhadap seorang rawi dengan berbagai karakter yang melemahkannya atau menyebabkan riwayatnya ditolak. Di antara pengertian ‘adl yang diberikan oleh ulama adalah seorang yang muslim, balig/dewasa, berakal, dan tidak fasik. Adapun pengertian ta’dil adalah iden­tifikasi terhadap seorang rawi dengan mencari-cari sifat-sifat baiknya, sehingga periwayatannya dapat diterima. Disyaratkan bagi orang yang melakukan tajrih (jarih) dan ta’dil (mu’addil) untuk memiliki ilmu, takwa, wara', jauh dari sifat ta’assub (mencintai sesuatu secara berlebihan, fanatik), dan mengetahui sebab-sebab jarh dan ta’dil. Selain itu disebut­kan pula bahwa mu’addil dan jarih harus terlebih dahulu seorang yang adil, sadar akan pekerjaan/ kajiannya, jujur, dan tidak ta’assub, tidak berbangga diri, dan menguasai sebab-sebab jarh dan ta’dil.

Ada beberapa prinsip yang dibuat oleh para ulama hadis guna menyelesaikan masalah pertentangan antara jarh dan ta’dil:
(1) Mendahulukan jarh dan ta’dil, sekalipun mu’addil-nya lebih banyak daripada jarih-nya.
(2) Mendahulukan ta’dil atas jarh bila ternyata mu’addil lebih banyak dan jarih.
(3) Tidak melakukan tarjih (menguatkan salah satu) antara keduanya, kecuali bila ada suatu penguat atau tetap mengamalkan keduanya sampai muncul suatu penguat atas salah satunya. Prinsip yang paling banyak dianut dan dipakai, baik oleh ulama mutakadimin maupun muta’akhkhirin (ula­ma setelah abad ke-3 H), adalah yang pertama.

‘Ilmu rijal al-hadis adalah ilmu yang mengkaji ke­adaan para rawi dan peri kehidupan mereka, baik dari kalangan sahabat, tabiin, maupun tabi’i at-ta-bi’in. Bagian dari ‘Ilm rijal al-hadis adalah ‘Ilm tarikh rijal al-hadis. Ilmu ini mengkaji keadaan rawi dengan penekanan pada aspek-aspek tanggal kelahiran, garis keturunan, guru sumber hadis, jumlah hadis yang diriwayatkan, dan murid-muridnya. ‘Ilm tabaqat ar-ruwat adalah ilmu yang mem­bahas keadaan rawi berdasarkan pengelompokan tertentu.

‘Ilm garib al-hadis ialah ilmu yang membahas masalah kata atau lafal yang terdapat pada matan hadis yang sulit dipahami, baik karena kata atau lafal tersebut jarang sekali dipakai, nilai sastranya yang tinggi, maupun karena sebab yang lain. Ulama yang dipandang sebagai perintis di bidang ini ialah Abu Ubaidah Ma’mar bin Musanna at-Taimi (w. 210 H).
‘Ilm asbab wurud al-hadis adalah ilmu yang mem­bahas sebab-sebab atau latar belakang lahirnya suatu hadis. Perintis di bidang ini antara Iain Abu Hamid bin Kaznah al-Jubari dan Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Raja al-Ukbari.

‘Ilmu tawarikh al-mutiin ialah ilmu yang mengkaji waktu terjadinya suatu hadis; berguna untuk pembahasan masalah nasikh-mansukh suatu hadis. Al-Imam Sirajuddin Abu Hafs Amr al-Bukqini dianggap sebagai perintis ilmu di bidang ini.

Ilmu talfiq al-hadis adalah ilmu yang membahas cara menyelesaikan atau memadukan masalah dua hadis yang secara lahir tampak saling bertentangan. Imam Syafi’i dipandang sebagai ulama yang mula-mula menyusun buku di bidang ini dengan karyanya yang berjudul Mukhtalifal-Hadis.

‘Ilmu at-tasif wa at-tahrif ialah ilmu yang mengkaji hadis yang telah mengalami perubahan tanda baca titik dan bentuknya. Ulama yang dipandang sebagai perintis di bidang ini adalah Daruqutni (w. 385 H) dan Abu Ahmad al-Askari (w. 283 H).

‘Ilmu an-nasikh wa al-mansukh adalah ilmu yang membahas penyelesaian hadis-hadis yang berten­tangan dan tidak dapat dikompromikan. Penyelesaiannya dilakukan melalui sejarah munculnya ha­dis-hadis itu. Setelah ditemukan sejarahnya, mana yang lebih dulu muncul dan mana yang kemudian, maka hadis yang terdahulu dinasakh-kan dengan hadis yang kemudian. Misalnya, hadis yang artinya: “Berbukalah orang yang membekam dan yang dibekam” (HR. Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali) dan hadis: “la (Nabi) berbekam sedang dalam keadaan berpuasa dan ihram” (HR. Ahmad bin Hanbal). Hadis pertama adalah penjelasan Nabi SAW tentang hukum perbuatan Ja’far bin Abi Talib (sahabat dan saudara Ali bin Abi Talib) sebelum penaklukan Mekah dan hadis kedua ada­lah keterangan Ibnu Abbas ( Abdullah bin Abbas) tentang perbuatan Nabi SAW. Ibnu Abbas masuk Islam bersama bapaknya pada masa penaklukan Mekah. Karena itu, hadis yang pertama dinasakh-kan dengan hadis kedua.
Di samping yang telah disebutkan di atas, masih terdapat cabang-cabang ilmu yang menyangkut sanad dan matan sekaligus, yaitu ‘Ilm ‘ilal al-hadis dan ‘Ilm al-fann al-mubhamat. ‘Ilm ‘Ilal al-hadis adalah kajian mengenai sebab-sebab yang samar atau tersembunyi yang dapat mengakibatkan suatu hadis dinilai cacat. Adapun ‘Ilm al-fann al-mubhamat adalah kajian mengenai nama-nama orang yang tidak disebutkan dalam matan dan sanad.

Kajian-kajian dalam lapangan ilmu hadis sangat berkembang sehingga memberi peluang bagi kritik-kritik yang ditujukan pada hadis, baik sanad mau­pun matannya. Di kalangan ahli-ahli ketimuran (orientalis) pernah muncul pandangan bahwa terhadap hadis hanya dilakukan kritik sanad, sedangkan kritik matan tidak dilakukan. Pandangan ter­sebut sesungguhnya tidak tepat karena kajian-kajian terhadap sanad dan matan pada hakikatnya adalah kajian kritis dan telah muncul sejak masa yang dini dari perkembangan hadis, baik itu dilakukan oleh para sahabat, para penulis hadis, maupun ulama-ulama hadis yang datang kemudian. Kritik hadis tidak ada di masa Nabi SAW karena persoalan-persoalan yang muncul dapat ditanyakan langsung kepada Nabi SAW. Kritik hadis di-mulai setelah wafatnya Nabi SAW.

Kritik sanad meliputi empat hal:
(1) Ittishal as-sanad (bersambungnya sanad). Karenanya tidak dibenarkan adanya sanad yang gugur, tersembunyi, tidak dikenal atau samar.
(2) Tsiqah as-sanad, yaitu rawi harus seorang yang ‘adl, dabit (cermat dan kuat), dan terpercaya.
(3) Syadz (kejanggalan). Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh seorang siqah secara menyendiri dan bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh rawi siqah lainnya. Syazz juga berlaku terhadap matan hadis.
(4) ‘Illat, yakni cacat yang tersembunyi pada suatu hadis yang kelihatannya baik atau sempurna.

Adapun kritik matan meliputi lima hal:
(1) Rakakah al-lafzh, yakni kejelekan dan kejanggalan pada susunan redaksi hadis.
(2) Fasad al-ma’na, yakni terdapat cacat pada makna hadis karena ber­tentangan dengan al-hiss (indera) dan akal.
(3) Bertentangan dengan nash Al-Qur’an.
(4) Berten­tangan dengan fakta sejarah yang terjadi di masa Nabi SAW.
(5) Hadits tersebut mencerminkan fanatisme golongan.

Pembicaraan tentang hadis dirayah sudah dimulai sejak zaman sahabat. Kemudian berkembang pada zaman tabiin dan menjadi sebuah ilmu yang berdiri sendiri pada abad ke-3 H.
Di antara kitab-kitab pertama yang menyangkut hadis dirayah ada­lah Tabaqat Ibn Sa’d (generasi periwayat hadis) oleh Ibnu Sa’ad (w. 230 H), ‘Hal al-Hadis wa Ma’rifah ar-Rijal (meneliti kecacatan hadis dan mengetahui periwayat hadis) oleh al-Madini (w. 234 H), Garib al-Hadis (kitab yang niemuat hadis garib/aneh) oleh Abu Ubaid al-Qasim bin Salam (w. 224 H), Ta’wil Mukhtalif al-Hadis (mengambil jalan keluar dari hadis-hadis yang maknanya bertentang­an) oleh Ibnu Qutaibah (w. 276 H), dan kemudian al-Jarh wa at-ta’dil (menilai cacat atau adilnya peri­wayat hadis) oleh Abdur Rahman bin Abi Hatim ar-Razi (w. 326 H) dan al-Muhaddis al-Fasil (peri­wayat hadis pilihan) oleh al-Qadi Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi (w. 360 H).
Di antara masalah yang menjadi bahasan ilmu hadis dirayah adalah yang menyangkut pembagian hadis dari segi nilainya, yaitu hadis sahih, hadis hasan, dan hadis daif.
Demikian juga masalah usia periwayat ketika menerima hadis, cara menerima dan menyampaikan hadis yang diriwayatkannya ke­pada orang lain serta jarh dan ta’dil.

Tidak ada komentar:

ANDA INGIN SUKSES BERGABUNGLAH…………INVESTASI DI IZZY CENTRE
(Invest dengan keuntungan sangat menakjubkan)

SUDAH TERBUKTI banyak orang yang telah sukses mereka yang ikut program ini, mereka bisa membeli kaplingan tanah yang sangat luas yang berisi taman dan segala fasilitas yang diperlukan lengkap dengan hotel dan gadis cantiknya tinggal pilih seperti apa yang mereka suka, kecantikannya, kemolekannya tak akan pernah pudar selalu oke.., tidak akan pernah mereka jumpai dalam keadaan second, selalu orisinil.

Adapun fasilitas-fasilitas yang lain semua serba lengkap tak kan dijumpai sesuatu yang mereka inginkan tidak terpenuhi, selalu ada apa yang mereka inginkan dan dalam sekejap telah terhidangkan. Inilah suatu bentuk kesuksesan bukan sembarang sukses, kesuksesan yang bukan hanya dapat dini’mati di dunia yang fana’ ini yang akan hancur binasa tetapi kesuksesannya dapat dini’mati di hari ketika kita sangat membutuhkan dimana tidak ada lagi pertolongan dari siapapun kecuali dari perbuatan baik kita sendiri(amal shaleh)

Orang –orang yang telah sukses seperti Abu Bakar r.a., Umar bin Choth-thob r.a., Utsman bin Affan r.a. dan shahabat-shahabat Nabi yang lain seperti Abdurrahman bin Auf r.a. mereka adalah orang terkaya yang mempunyai tanah yang sangat luas yang dipenuhi dengan berbagai aneka macam fasilitas yang berkelas dunia akherat.Maka bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejak mereka pasti akan sukses tan tak akan di dijumpai kata gagal, karena banyak sekali isyarat-isyarat dari orang yang pernah survei taman-taman (syurga) mereka yakni baginda Rasulullah SAW yang sempat mampir disana ketika prosesi ISRA’ MI’RAJ.

sudah jelas penjelasan –penjelasan dari beliau SAW yang menerangkan tentang invest akherat yang akan mendatangkan laba/untung yang berlipat-lipat. Invest ini akan di prioritaskan untuk proyek pengadaan GENERASI ISLAM YANG MUMPUNI BERIMAN DAN BERTAKWA dari golongan yang berlatar belakang lemah(yatim/piatu/dhuafa’), dimana proyek ini akan menelan biaya milyaran rupiah.(silahkan buka IZZY CENTRE ISLAM BANGKIT ISLAM JAYA)

Bagi yang ingin Invest hub:
Ahmad Izzy Ar Rifai

0812 80 7007 42