...أَهْلاً وَسَهْلاً...Welcome...Sugeng Rawuh...
Selamat Datang...
INSYA ALLAH kami akan selalu memberikan manfaat buat Pengunjung......

Selasa, 17 Februari 2009

Kebolehan Menyentuh Mushaf Al-Qur'an


Para ulama sepakat bahwa kebolehan me­nyentuh mushaf Al-Qur'an hanya ditujukan kepada orang-orang/hamba-hamba yang disucikan saja, sedangkan hamba-hamba yang tidak disucikan tidak diperbolehkan. Hal ini didasarkan atas keterangan Al-Qur'an surah al-Waqi'ah ayat 77-80 yang arti­nya: "Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam."

Kata al-mutahharun dalam ayat 79 di atas mengandung beberapa pengertian. Dalam hal ini, tidak ada penegasan dari Al-Qur'an tentang apa yang dimaksud dengan kata itu. Dari sini timbul perbedaan penafsiran dan pemahaman para ulama, baik dari kalangan ulama tafsir maupun ulama fikih.

Syekh Abu Ah' al-Fadl bin Hasan at-Tabarsi, seorang ulama tafsir abad ke-6 H, dalam kitabnya Majma' al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an menafsirkan bahwa kata al-mutahharun itu mengandung tiga makna, yaitu para malaikat, orang-orang/hamba-hamba yang suci dari syirik, dan orang-orang yang suci dari Hadas dan junub.

Muhammad Ali as-Sabuni, guru besar tafsir di Universitas King Abdul Aziz (Mekah), menyatakan dalam kitabnya Shafwat at-Tafasir bahwa kata al-mutahharun berarti para malaikat yang dinyatakan oleh Allah SWT sebagai hamba-hamba yang suci dari syirik, dosa, dan hadas atau orang-orang/hamba-hamba yang berwudu.

Hadis Rasulullah SAW juga tidak menegaskan dan tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata al-mutahharun itu. Dalam hadis hanya ditemukan kata tahirun, seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh ad-Darimi dan Imam Malik dari Amr bin Hazm; "Nabi SAW menulis, tidak menyentuh Al-Qur'an kecuali orang yang suci."

Penggunaan kata tahirun yang bersifat umum dalam hadis juga mengundang perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Jumhur (mayoritas) ulama fikih, termasuk Imam Malik, Imam Hanafi, dan Imam Syafi'i, berpendapat bahwa yang di­maksud dengan tahirun dalam hadis itu adalah orang yang berwudu. Karena itu, mereka berpendirian bahwa yang diperbolehkan menyentuh mus­haf Al-Qur'an hanyalah orang-orang yang ber­wudu. Menurut mereka, wudu merupakan syarat untuk memegang mushaf. Adapun ulama yang lain, seperti ulama Mazhab Zahiri, menolak pendirian ulama di atas dan mengatakan bahwa wudu tidak merupakan syarat untuk menyentuh mushaf Al-Qur'an; orang yang tidak berwudu boleh me­nyentuh mushaf.

SYIRIK.
Perbuatan, anggapan atau itikad menyekutukan Allah SWT dengan yang lain, seakan-akan ada yang maha kuasa di samping Allah SWT. Menurut pengertian bahasa, berarti persekutuan atau bagian (nasib). Orang yang menyekutukan Allah SWT disebut musyrik. Syirik merupakan dosa besar yang tidak terampuni (QS.4:48).

Syirik terbagi menjadi dua macam, yakni syirik akbar (syirik besar) atau disebut syirk jali (syirik nyata) dan syirk asgar (syirik kecil) atau disebut juga syirk khafi (syirik samar-samar).
Syirik akbar atau syirk jali ialah perbuatan yang jelas-jelas menganggap ada tuhan-tuhan lain (dilihati) selain Allah SWT dan tuhan-tuhan itu dijadikannya sebagai tandingan di samping Allah SWT, menganggap ada sesembahan lain selain Allah SWT, menganggap Tuhan mempunyai anak atau segala perbuatan yang mengingkari kemahakuasaan Allah SWT. Gambaran perbuatan orang-orang musyrik bisa dilihat dalam Al-Qur’an surah al-Mu’minun ayat 84—91, surah al-Ankabut ayat 61-63, surah Luqman ayat 31-34, surah az-Zumar ayat 38-39, dan surah az-Zukhruf ayat 43-87.

Salah satu tugas pokok misi agama-agama samawi yang pernah diturunkan Allah SWT ialah membersihkan kepercayaan manusia dari paham syirik (lihat antara lain surah an-Nahl ayat 36). Nabi Nuh AS misalnya, menyeru umatnya untuk hanya beribadat kepada Allah SWT ketika umatnya menyembah berhala Wudd, Suwa, Yagus, Ya’uq, Nasr (QS.71:3,23). Nabi Hud AS menyeru kaumnya, Ad, untuk beribadat kepada Allah SWT (surah Hud ayat 2 dan seterusnya).

Nabi Ibrahim AS menentang bapaknya yang pembuat patung dan Raja Namrud sebagai penyembah berhala serta mengajak mereka untuk hanya beribadat kepada Allah SWT (QS.6:74 dan QS.21:52). Nabi Muhammad SAW menghapuskan paham syirik di kalangan Arab Jahiliah. Musyrikin Arab Jahiliah mengakui Allah SWT sebagai Tuhan mereka, tetapi mereka merasa perlu ada perantara-perantara untuk lebih mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. Mereka membuat berhala seperti Hubal, Lata, Uzza, dan Manata sebagai perantara (QS.39:2 dan QS.53:19-23).

Perbuatan yang dapat dipandang sebagai syirik akbar (syirk jali) tidak hanya dilakukan oleh orang yang tidak atau belum beragama Islam. Orang yang sudah mengaku beragama Islam juga bisa berbuat syirik ini. Gerakan pemurnian tauhid yang dilaku­kan Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787) di Nejd dan tempat-tempat lain yang pernah ia kunjungi, adalah untuk memberantas syirik yang telah merajalela di kalangan umat Islam ketika itu.

Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, musyrikin Arab Jahiliah dipandang musyrik karena mengambil Lata, Uzza, Manata, dan berhala lainnya se­bagai perantara dalam menyembah Tuhan. Maka yang terjadi pada masanya, umat Islam mengambil kuburan-kuburan para syekh-syekh tarekat, batu, pohon kurma, dan tempat-tempat yang mereka anggap suci sebagai wasilah (pertalian, ikatan) da­lam berdoa dan beribadat kepada Allah. Oleh sebab itu mereka disebut musyrik sehingga perlu dimurnikan ketauhidannya.

Syirk asgar atau syirk khafi ialah perbuatan yang secara tersirat mengandung pengakuan ada yang kuasa di samping Allah SWT. Misalnya, pernyataan seseorang: “Jika seandainya saya tidak ditolong oleh si A pada peristiwa itu, saya pasti mati.” Atau misalnya, “Jika saya tidak makan obat itu, saya tidak akan sembuh dari penyakit ini.1’ Pernyataan seperti itu menyiratkan seakan-akan ada pengakuan bahwa ada sesuatu yang berkuasa selain Allah SWT. Seorang mukmin yang baik dalam peristiwa seperti tersebut di atas akan berkata “Seandainya tidak ada pertolongan Tuhan melalui si A, saya pasti mati” atau “Seandainya tidak ada pertolongan Tuhan me­lalui obat ini, saya tidak akan sembuh dari penyakit itu.” Dalam salah satu hadis yang terdapat pada Musnad Ahmad Ibn Hanbal (kitab hadis Imam Hanbali) dikatakan bahwa syirk khafi ialah sese­orang yang dalam mengerjakan suafa perbuatan ada maksud untuk dipuji oleh orang lain (perbuatan ria).

HADAS

Keadaan tidak suci secara ritual pada orang yang telah balig dan berakal sehat. Fikih membedakan hadas kecil atau hadas asgar dan hadas besar atau hadas akbar.

Para fukaha (ahli fikih) sependapat bahwa seseorang disebut berhadas kecil apabila keluar air kencing, air besar (tinja), angin, mazi (air putih bergetah yang keluar sewaktu mengingat senggama atau sedang bercanda), dan wadi (semacam cairan putih kental yang keluar dari alat kelamin mengiringi air kencing) dalam kondisi fisik sedang sehat.
Selain perkara tersebut terdapat beberapa perkara Iain yang oleh sebagian fukaha dipandang membuat seseorang berhadas kecil tetapi oleh sebagian lain tidak dipandang demikian, yaitu:
(a) segala najis yang keluar dari tubuh;
(b) tidur;
(c) menyentuh wanita dengan tangan atau dengan anggota tubuh lainnya yang sensitif;
(d) menyentuh zakar;
(e) memakan makanan yang dibakar api;
(f) tertawa di dalam salat;
(g) membawa mayat. Jumhur ula­ma memandang bahwa hilangnya akal karena pingsan, gila, atau mabuk telah membuat seseorang berhadas kecil dan karenanya wajib melakukan wudu. Mereka mengiaskan hal ini kepada tidur. Artinya, apabila tidur dalam posisi tertentu dipandang sebagai penyebab hadas kecil, demikian pula dengan hilangnya akal. Selanjutnya orang yang berhadas kecil dilarang melakukan salat; dan apabila hendak melakukannya, ia wajib melakukan wudu.

Dalil yang mewajibkan hal ini adalah:
(a) firman Allah SWT yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, ...” (QS.5:6);
(b) sabda Nabi SAW yang artinya: “Allah tidak menerima salat tanpa bersuci...” (HR. Muslim); (c) ijmak. Di samping salat, terdapat perkara-perkara lain yang dilarang dilakukan oleh orang berhadas kecil tetapi masih diperselisihkan oleh para fukaha, yaitu :
(a) tawaf (bentuk ibadah dengan berjalan mengelilingi Ka’bah tujuh kali de­ngan arah berlawanan arah jarum jam sambil berdoa) - Imam Malik dan Imam Syafi’i melarangnya, sedangkan Abu Hanifah membolehkannya; dan
(b) membaca Al-Qur’an dan menyebut nama Allah.
Orang yang berhadas kecil akan kembali kepada keadaan suci apabila telah melakukan taharah syar’iyyah yang disebut wudu.

Dasar untuk hal ini adalah firman Allah SWT yang artinya: “... atau datang dari tempat buang air atau kamu telah me­nyentuh perempuan,...” (QS.4:43) dan sabda Nabi SAW yang artinya: “Allah tidak menerima salat orang yang berhadas sehingga ia melakukan wudu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmizi dari Abu Hurairah).

Taharah ini dalam kon­disi tertentu bisa diganti dengan tayamum.
Hadas besar terjadi apabila seseorang dalam keadaan janabah (berhadas besar; orangnya dise­but junub) dan bila wanita dalam keadaan haid. Untuk kembali kepada keadaan suci, seorang junubatau haid wajib melakukan mandi (gust). Dasar hukum dalam hal ini adalah firman Allah SWT yang artinya:”.:. dan jika kamu junub maka mandilah...” (QS.5:6), dan firmanNya yang lain yang arti­nya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’ ...” (OS .2:222).

Ulama sependapat bahwa kedua hadas berikut ini mewajibkan mandi. Pertama, keluarnya mani dari seseorang, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan sehat, baik pada waktu tidur maupun pada waktu bangun. An-Nakha’i (nama lengkapnya Abu Imam Ibrahim bin Yasid bin Qais an-Nakha’i, wafat tahun 96 H; seorang ulama fikih di Kufah dan seorang tabiin yang mulia) dalam hal ini berpendapat lain, yaitu wanita tidak wajib mela­kukan mandi karena bermimpi bersetubuh lalu keluar mani. Sementara jumhur ulama berpendapat bahwa dalam hal ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita.
Dasar yang digunakan oleh jumhur ulama adalah hadis Ummu Salamah (salah seorang istri Nabi SAW) yang artinya:” Ya Rasulullah, wanita bermimpi seperti mimpinya laki-laki, apakah ia wajib melakukan mandi? Rasulullah menjawab: Ya, apabila ia melihat air (mani keluar).” Kedua, setelah berhentinya darah haid. Hal ini di samping berdasarkan ayat Al-Qur’an (QS.2:222), juga atas pelajaran tentang gusl (mandi) karena haid yang diberikan kepada Aisyah dan wanita-wanita lainnya. Ulama juga memasukkan wanita yang telah berhenti dari nifas ke dalam golongan orang-orang yang berhadas besar. Mereka sama-sama dilarang melakukan salat dan tawaf.

Sehubungan dengan hadas besar karena janabah, terdapat perselisihan di kalangan ulama. Pertama, para ulama berselisih pendapat tentang sebab pokok yang mewajibkan mandi karena bersetubuh. Sebagian dari mereka, seperti Imam Malik dan para pengikutnya, Imam Syafi’i dan para pengikutnya, serta sekelompok AM az-Zahir (ulama yang mendasarkan pendapatnya pada teks dalil) mewajibkan mandi karena bertemunya dua alat kelamin laki-laki dan wanita, baik mengeluarkan maupun tidak mengeluarkan mani. Akan tetapi, sekelompok lain dari AM az-Zahir hanya mewajibkannya apabila pertemuan dua alat kela­min itu diiringi dengan keluarnya air mani. Kedua, ulama berselisih pendapat tentang sifat keluarnya air mani yang mewajibkan mandi. Imam Malik ber­pendapat bahwa kenikmatan dalam keluarnya air mani itulah yang mewajibkan mandi. Sementara itu, Imam Syafi’i berpendapat bahwa keluarnya air mani itu sendiri telah mewajibkan mandi, baik disertai maupun tidak disertai dengan kenikmatan.
Di samping itu, ada beberapa perkara yang di­larang dilakukan oleh orang junub, tetapi hal ini masih diperselisihkan oleh para ulama. Pertama, memasuki masjid. Imam Malik dan para pendukung mazhabnya melarang hal itu sama sekali. Ulama lain, seperti Imam Syafi’i, hanya memboleh­kan lewat tanpa menetap di dalamnya. Ulama lain lagi, Dawud dan para pendukung mazhabnya, membolehkan semuanya. Perkara ini mereka perselisihkan juga dalam kaitannya dengan wanita haid. Kedua, membaca Al-Qur’an. Jumhur ulama melarangnya, sedangkan segolongan ulama membolehkannya. Ada segolongan ulama yang menyamakan kedudukan wanita haid dalam hal ini de­ngan kedudukan orang junub. Akan tetapi, sego­longan lain membedakan antara keduanya. Mazhab Imam Malik membolehkan wanita haid membaca Al-Qur’an karena panjangnya masa haid. Khusus bagi wanita berhadas besar karena haid dan nifas terdapat larangan lain, yaitu mengerjakan saum (puasa) dan bersetubuh. Sama halnya dengan wudu, mandi dalam kondisi tertentu bisa diganti dengan tayamum.

IMAM MALIK
(Madinah, 94 H/716 M-Madinah, 179 H/795 M).
Pendiri Mazhab Maliki, imam dan mujtahid (ahli ijtihad) besar dalam Islam yang ahli di bidang fikih dan hadis. Kama lengkapnya ialah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al-Asbahi. Malik bin Anas sejak lahir sampai wafatnya berada di Madinah. la tidak pernah meninggalkan kota Madinah kecuali untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Madinah ketika itu merupakan pusat berkembangnya sunah/hadis Rasulullah SAW, dan ia sendiri menjadi salah seorang periwayat (rawi) hadis yang masyhur.
Dalam hal penerimaan hadis, ia hanya menerima hadis dari orang yang memang dipandang ahli hadis dan orang terpercaya (siqah). la pun hanya menerima hadis yang matannya (redaksi atau kandungannya) tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Dalam hal periwayatan hadis, ia hanya meriwayatkan hadis-hadis yang makruf dan mensyaratkan juga matan hadis itu sejalan dengan amalan penduduk Madinah.
Guru yang sekaligus menjadi sumber penerima­an hadis Imam Malik adalah Nafi’ bin Abi Nu’aim, Ibnu Syihab az-Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Sa’id al-Ansari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdur Rahman bin Hurmuz, seorang tabiin ahli hadis, fikih, fatwa, dan ilmu berdebat. Adapun murid-muridnya antara lain: asy-Syaibani, Imam Syafi’i, Yahya bin Yahya al-Andalusi, Abdurrahman bin Kasim di Mesir, dan Asad al-Furat at-Tunisi.
Buku karangan Malik bin Anas bernama al-Muwatta’. Buku ini adalah buku hadis dan sekali­gus buku fikih karena berisi hadis-hadis yang disusun sesuai dengan bidang-bidang yang terdapat dalam buku fikih. Dikatakan bahwa hadis-hadis yang terdapat dalam kitab al-Muwatta’ ini tidak seluruhnya musnad (hadis yang bersambung sanadnya) karena di samping hadis, di dalamnya ter­dapat pula fatwa para sahabat dan tabiin. Kitab al-Muwatta’ ini mulai ditulis oleh Malik bin Anas pada masa Khalifah al-Mansur (137 H/754 M-159 H/775 M) dan selesai penulisannya pada masa Khalifah al-Mahdi (159 H/775 M-169 H/785 M). Khalifah Harun ar-Rasyid (170 H/786 M-194 H/ 809 M) berusaha menjadikan kitab ini sebagai kitab hukum yang berlaku untuk umum pada masanya, tetapi Malik bin Anas tidak menyetujuinya.
Imam Malik tidak mau ikut campur dalam hal politik. Akan tetapi, ketika ia diminta memberi fat­wa tentang baiat yang diberikan secara paksa, ia menyatakan bahwa baiat semacam itu tidak sah. Baiat yang dimaksud itu ialah baiat khalifah Ab-basiyah, al-Mansur, yang menurut kelompok Syiah dipaksakan kepada umat. Bagi kelompok Syiah, fatwa Malik bin Anas ini dijadikan pendorong da­lam menentang kekuasaan Abbasiyah di Madinah. Peristiwa yang terjadi tahun 147 H ini menyebabkan Malik bin Anas ditangkap dan disiksa. Ketika musim haji tiba, al-Mansur mengunjungi Imam Malik dan memohon maaf kepadanya atas perlakuan petugas yang ada di Madinah. Imam Malik kemudian dibebaskan dan Khalifah al-Mansur me­mohon kepadanya untuk mengumpulkan hadis-ha­dis Rasulullah SAW agar dapat dijadikan pegangan umat. Pada mulanya Imam Malik memang keberatan tetapi akhirnya melaksanakannya juga. Sebagai hasilnya, tercipta kitab al-Muwatta’ seperti tersebut di atas.
Pemikiran Imam Malik di bidang hukum Islam/ fikih sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Ma­dinah sebagai pusat timbulnya sunah Rasulullah SAW dan sunah sahabat merupakan lingkungan kehidupan Imam Malik sejak lahir sampai wafatnya. Oleh sebab itu, pemikiran hukum Imam Malik banyak berpegang pada sunah-sunah tersebut. Kalau terjadi perbedaan satu sunah dengan yang lain, maka ia berpegang pada tradisi yang biasa berlaku di masyarakat Madinah. Menurut pendapatnya, tradisi masyarakat Madinah ketika itu berasal dari tradisi para sahabat Rasulullah SAW yang dapat dijadikan sumber hukum. Kalau ia tidak menemukan dasar hukum dalam Al-Qur’an dan sunah, ma­ka ia memakai qiyas (kias) dan al-maslahah al-mursalah (maslahat/kebaikan umum).

Berdasarkan pendapat Imam Malik tersebut, dasar-dasar hukum yang berlaku dalam Mazhab Maliki adalah sesuai dengan urutan berikut:
1) Al-Qur’an,
2) as-sunnah (sunah Rasulullah SAW),
3) sunah sahabat,
4) tradisi masyarakat Madinah (‘amal ahli al-Madinah),
5) kias,
6) al-maslahah al-mursalah.

Mazhab Maliki timbul dan berkembang di Ma­dinah. kemudian tersiar di sekitar Hejaz. Di Me­sir, Mazhab Maliki sudah mulai muncul dan berkembang selagi Imam Malik masih hidup. Di an­tara yang berjasa mengembangkannya adalah para murid Imam Malik sendiri: Abdul Malik bin Habib as-Sulami, Isma’il bin Ishak, Asyhab bin Abdul Aziz al-Kaisy, Abdurrahman bin Kasim, Usman bin Hakam, dan Abdur Rahim bin Khalid. Selain di Mesir, Mazhab Maliki ini juga dianut oleh umat Islam yang berada di Maroko, Tunisia, Tripoli, Su­dan, Bahrain, Kuwait, dan daerah Islam lain di sebelah barat, termasuk Andalusia. Filsuf Ibnu Rusyd yang di dunia Barat dikenal sebagai Commentator dari Aristoteles termasuk pengikut Imam Malik. Sementara itu, di dunia Islam sebelah timur Mazhab Maliki ini kurang berkembang.

Imam Hanafi

(Kufah, 80 H/699 M Baghdad, 150 H/767 M). Ulama mujtahid (ahli ijtihad) dalam bidang fikih dan salah seorang di antara imam keempat mazhab (Mazhab Maliki, Mazhab Hanbali, Mazhab Syafi'i, dan Mazhab Hanafi) yang terkenal dalam Islam. Nama lengkapnya Abu Hanifah Nu'man bin Sabit. Ayahnya, Sabit, berasal dari keturunan Persia yang semasa kecil diajak orangtuanya berziarah kepada Ali bin Abi Talib. Lalu ia didoakan agar dari keturunannya (Sabit) ada yang menjadi ahli agama. Gelar Abu Hanifah diberikan kepada Nu'man bin Sabit karena ia se­orang yang sungguh-sungguh dalam beribadah. Kata hanif dalam bahasa Arab berarti "suci" atau "lurus". Setelah menjadi ulama mujtahid, ia pun dipanggil dengan sebutan Imam Abu Hanifah dan mazhabnya dinamakan Mazhab Hanafi.

Imam Abu Hanifah dikenal rajin dan teliti da­lam bekerja, fasih berbahasa. Pembicaraannya selalu mengandung nasihat dan hikmah. la teguh da­lam memegang prinsip, berani menyatakan yang benar di hadapan siapa pun, dan memiliki kepribadian yang luhur. Walaupun putra saudagar kaya, Abu Hanifah amat menjauhi kemewahan hidup. Begitu pula ketika ia sendiri menjadi pedagang kaya, hartanya lebih banyak didermakan daripada digunakannya sendiri. la senang bergaul dan mempunyai banyak sahabat.
Sejak masa mudanya Abu Hanifah sudah me­nunjukkan kecintaan yang mendalam pada ilmu pengetahuan, terutama yang bertalian dengan hukum Islam. la mengunjungi berbagai tempat untuk berguru kepada ulama yang terkenal, sehingga Abu Hanifah mempunyai banyak guru. Gurunya kebanyakan dari para tabiin, antara lain Imam Ata bin Abi Rabah (w. 114 H), Imam Nafi Maula bin Amr (w. 117 H), dan Imam Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H). Yang terakhir ini adalah seorang ulama fikih yang termasyhur di masanya, dan Abu Hanifah berguru kepadanya selama kurang lebih 18 tahun. Gurunya yang lain adalah Imam Muham­mad al-Baqir, Imam Adi bin Sabit, Imam Abdur­rahman bin Hammaz, Imam Amr bin Dinar, Imam Mansur bin Mu'tamir, Imam Syu'bah al-Hajjaj, Imam Asim bin Abu an-Najwad, Imam Salamah bin Kuhail, Imam Qatadah, Imam Rabi'ah bin Abi Abdurrahman, dan Iain-lain.
Minatnya yang mendalam terhadap ilmu fikih, kecerdasan, ketekunan, dan kesungguhan dalam belajar mengantarkan Abu Hanifah menjadi se­orang yang ahli di bidang fikih. Keahliannya diakui oleh ulama semasanya, antara lain oleh Imam Hammad bin Abi Sulaiman. la sering mempercayakan tugas kepada Abu Hanifah untuk memberi fatwa dan pelajaran ilmu fikih di hadapan murid-muridnya. Imam Syafi'i menyatakan bahwa Abu Hanifah adalah bapak dan pemuka seluruh ulama fikih. Imam Khazzaz bin Sarad juga mengakui keunggulan Abu Hanifah di bidang fikih dari ulama lainnya.
Selain ilmu fikih, Abu Hanifah juga mendalami hadis dan tafsir, karena keduanya sangat erat berkaitan dengan fikih. Pengetahuan lain yang dimilikinya adalah sastra Arab dan ilmu hikmah. Karena penguasaannya yang mendalam terhadap hukum-hukum Islam, ia diangkat menjadi mufti di kota Kufah, menggantikan Imam Ibrahim an-Nakhai. Kepopulerannya sebagai ahli fikih terdengar sampai ke berbagai pelosok negeri.
Imam Abu Hanifah begitu terkenal sehingga banyak orang datang dari daerah yang jauh, hanya untuk mendengarkan fatwanya, dan dalam waktu singkat muridnya pun bertambah dengan pesat, an­tara lain Imam Abu Yusuf (113-182 H), Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (132-189 H), Imam Zufar bin Hudail (w. 158 H/775 M), dan Imam Hasan bin Ziyad.
Berbeda dengan guru lainnya pada waktu itu, Abu Hanifah dalam memberikan pengajaran selalu menekankan kepada murid-muridnya untuk berpikir kritis. la tidak ingin muridnya menerima begitu saja ilmu yang disampaikannya, melainkan mereka boleh mengemukakan tanggapan, pendapat, dan kritik. Sering kali ia ditemukan berdiskusi, bahkan berdebat dengan murid-muridnya tentang suatu masalah. Walaupun ia memberi kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat kepada murid-muridnya, ia tetap disegani dan dihormati, malah sangat dicintai murid-muridnya.
Ketakwaan Imam Abu Hanifah banyak diakui oleh ulama yang dekat dan mengenal dengan baik kehidupannya sehari-hari. Imam Abu Hanifah ada­lah orang yang banyak beribadah kepada Allah SWT, sangat membenci perbuatan yang dilarang Allah SWT, amat berhati-hati dalam mengeluarkan hukum agama, dan paling sedikit berbicara. Imam Abu Hanifah terkenal sebagai orang yang sangat alim, sangat membenci kemewahan hidup, tekun dalam beribadah kepada Allah SWT, dan menguasai seluk-beluk hukum Islam.
Imam Abu Hanifah dikenal mempunyai sikap keras dan tegas terhadap bidah. Karena itu, ia senantiasa berpesan kepada murid-muridnya agar selalu waspada terhadap berbagai bidah yang muncul, dan hendaknya selalu berpedoman pada sunah Rasulullah SAW. Menurutnya, setiap hal yang baru dalam urusan ibadah adalah bidah.
Imam Abu Hanifah digelari Imam Ahlur Ra'yi karena ia lebih banyak memakai argumentasi akal daripada ulama lainnya. la juga banyak menggunakan kias dalam menetapkan suatu hukum. Walaupun demikian, tidak berarti ia mendahulukan kias daripada nas. Dasar-dasar yang dipakai dalam menetapkan suatu hukum adalah:
(1) kitab Allah SWT (Al-Qur'an);
(2) sunah Rasulullah SAW;
(3) fatwa-fatwa dari para sahabat;
(4) kias;
(5) istihsan;
(6) ijmak; dan
(7) 'urf, yaitu adat yang berlaku di masyarakat Islam.
Dasar-dasar itulah yang kemudian dikenal de­ngan "Dasar Mazhab Hanafi". Tegasnya, ia hanya menggunakan kias bila hukumnya tidak didapati secara jelas di dalam Al-Qur'an, tidak dalam sunah (hadis sahih), dan tidak pula dalam keputusan para sahabat, khususnya al-Khulafa' ar-Rasyidun (Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib).
Sebagai ulama yang terkemuka dan banyak memberikan fatwa, Imam Abu Hanifah meninggalkan banyak ide dan buah pikiran. Sebagian ide dan buah pikirannya ditulisnya sendiri dalam bentuk buku, tetapi kebanyakan dihimpun oleh murid-muridnya untuk kemudian dibukukan. Kitab-kitab yang ditulisnya sendiri antara lain: (1) al-Fara'id, yang khusus membicarakan masalah waris dan segala ketentuannya menurut hukum Islam; (2) asy-Syurut, yang membahas perjanjian; dan (3) al-Fiqh al-Akbar, yang membahas ilmu kalam atau teologi dan diberi syarah (penjelasan) oleh Imam Abu Mansur Muhammad al-Maturidi dan Imam Abu al-Muntaha al-Maula Ahmad bin Mu­hammad al-Magnisawi.
Jumlah kitab yang ditulis oleh murid-muridnya cukup banyak; di dalamnya terhimpun ide dan buah pikiran Abu Hanifah. Semua kitab itu kemudian menjadi pegangan pengikut Mazhab Hanafi. Ulama Mazhab Hanafi membagi kitab-kitab itu ke dalam tiga tingkatan.
Pertama, tingkat Masa'il al-Usul (masalah-masalah pokok), yaitu kitab-kitab yang berisi masalah-masalah yang langsung diriwayatkan dari Imam Hanafi dan sahabat-sahabatnya yang terkenal seperti Imam Abu Yusuf. Walaupun demikian, kitab ini tidak murni merupakan pendapat dan pikiran Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya, tetapi juga pikiran dan pendapat murid yang menuliskannya. Kitab dalam kategori ini disebut Zahir ar-Riwayah (teks riwayat) yang terdiri atas 6 kitab, yaitu:
(1) al-Mabsut (buku yang terbentang); (2) al-Jami' as-Sagir (himpunan ringkas); (3) al-Jami' al-Kabir (himpunan lengkap); (4) as-Sair as-Sagir (sejarah ringkas); (5) as-Sair al-Kabir (sejarah lengkap); (6) az-Ziyadah (tambahan).
Pada awal abad ke-4 Hijriah, keenam buku ini dihimpun dan disusun menjadi satu oleh Imam Abdul Fadl Muhammad bin Ahmad al-Marwazi dengan nama al-Kafi (Yang Memadai) yang kemudian disyarah oleh Imam Muhammad as-Sarkhasi dengan nama al-Mabsut (Yang Menuai).
Kedua, tingkat Masa'il an-Nawazir (masalah tentang sesuatu yang diberikan sebagai nazar), yaitu kitab-kitab yang berisi masalah fikih yang diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya dalam kitab selain Zahir ar-Riwayah. Kitab-kitab yang termasuk dalam kategori kedua adalah kitab-kitab Harr an-Niyah (Niat Yang Murni), Jurj an-Niyah (Rusaknya Niat), dan Qais an-Niyah (Kadar Niat) oleh Imam Muhammad bin Hasan bin Syaibani, serta kitab al-Mujarrad (Yang Asli) oleh Imam Hasan bin Ziyad.
Ketiga, tingkat al-Fatawa wa al-Waqi'at (fatwa-fatwa dalam permasalahan), yaitu kitab-kitab yang berisi masalah-masalah fikih yang berasal dari is-tinbat (pengambilan hukum dan penetapannya) ulama Mazhab Hanafi. Termasuk dalam kategori ini adalah kitab-kitab an-Nawazil (Bencana) dari Imam Abdul Lais as-Samarqandi.

IMAM SYAFI’I
(Gaza, Palestina, 150 H/767 M-Fustat [Cairo], Mesir, 204 H/20 Januari 820).
Ulama mujtahid (ahli ijtihad) di bidang fikih dan salah seorang dari empat imam mazhab yang ter­kenal dalam Islam. la hidup di masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid, al-Amin, dan al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah. Nama lengkap nya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. la sering juga dipanggil dengan nama Abu Abdullah karena salah seorang putranya bernama Abdullah. Setelah menjadi ulama besar dan mempunyai banyak pengikut, ia lebih dikenal de­ngan nama Imam Syafi’i dan mazhabnya disebut Mazhab Syafi’i. Kata “Syafi’i” dinisbahkan kepada nama kakeknya yang ketiga, yaitu Syafi’i bin as-Sa’ib. Ayahnya bernama Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’ bin as-Sa’ib bin Abid bin Abd Yazid bin Hasyim bin al-Muttalib bin Abd Manaf, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Abdullah bin al-Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Talib. Dari garis keturunan ayahnya, Imam Syafi’i bersatu dengan keturunan Nabi Muhammad SAW pada Abd Manaf, kakek Nabi SAW yang ketiga, sedangkan dari pihak ibunya, ia adalah cicit dari Ali bin Abi Talib. Dengan demikian, kedua orang tuanya berasal dari bangsawan Arab Kuraisy.
Kedua orangtuanya meninggalkan Mekah menuju Gaza, suatu tempat di Palestina, ketika ia masih dalam kandungan. Tiada berapa lama setelah tiba di Gaza, ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa bulan sepeninggal ayahnya ia dilahirkan dalam keadaan yatim. Syafi’i diasuh dan dibesarkan oleh ibunya sendiri dalam kehidupan yang sangat sederhana, bahkan banyak menderita kesulitan. Setelah Syafi’i berumur dua tahun, ibu­nya membawanya pulang ke kampung asalnya, Mekah. Di sinilah Syafi’i tumbuh dan dibesarkan.
Pendidikan Syafi’i dimulai dari belajar membaca Al-Qur’an. Sejak usia dini ia telah memperlihatkan kecerdasan dan daya hafal yang luar biasa. Dalam usia 9 tahun Syafi’i sudah menghafal seluruh isi Al-Qur’an dengan lancar. Setelah dapat menghafal Al-Qur’an, Syafi’i berangkat ke dusun Badui, Banu Hudail, untuk mempelajari bahasa Arab yang asli dan fasih. Di sana, selama bertahun-tahun Syafi’i mendalami bahasa, kesusastraan, dan adat istiadat Arab yang asli. Berkat ketekunan dan kesungguhannya, Syafi’i kemudian dikenal sangat ahli dalam bahasa Arab dan kesusastraannya, mahir dalam membuat syair, serta mendalami adat istiadat Arab yang asli.
Syafi’i kembali ke Mekah dan belajar ilmu fikih pada Imam Muslim bin Khalid az-Zanni, seorang ulama besar dan mufti di kota Mekah, sampai memperoleh ijazah berhak mengajar dan memberi fatwa. Selain itu, Syafi’i juga mempelajari berbagai cabang ilmu agama lainnya seperti ilmu hadis dan ilmu Al-Qur’an. Untuk ilmu hadis, ia berguru pada ulama hadis terkenal di zaman itu, Imam Sufyan bin Uyainah, sedangkan untuk ilmu Al-Qur’an pada ulama besar Imam Isma’il bin Qastantin.
Di samping cerdas, Syafi’i juga sangat tekun dan tidak kenal lelah dalam belajar. Pada usia 10 tahun ia sudah membaca seluruh isi kitab al-Muwatta’ karangan Imam Malik dan pada usia 15 tahun telah menduduki kursi mufti di Mekah. Selama menuntut ilmu, Syafi’i hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Diriwayatkan bahwa karena kemiskinan dan ketidakmampuannya ia terpaksa mengumpulkan kertas-kertas bekas dari kantor-kantor pemerintah atau tulang-tulang sebagai alat untuk mencatat pelajarannya.
Setelah menghafal isi kitab al-Muwatta’, Syafi’i sangat berhasrat untuk menemui pengarangnya, Imam Malik, sekaligus memperdalam ilmu fikih yang amat diminatinya. Lalu dengan meminta izin kepada gurunya di Mekah, Syafi’i berangkat ke Madinah, tempat Imam Malik. Diceritakan bahwa dalam perjalanan antara Mekah dan Madinah yang ditempuhnya selama 8 hari Syafi’i sempat mengkhatamkan (baca sampai selesai) Al-Qur’an sebanyak 16 kali. Setibanya di Madinah, ia lalu salat di Masjid Nabi, menziarahi makam Nabi SAW, baru kemudian menemui Imam Malik. Selama di Madi­nah Syafi’i tinggal di rumah gurunya, Imam Malik, la sangat dikasihi oleh gurunya itu dan kepadanya diserahi tugas untuk mendiktekan isi kitab al-Mu­watta’ kepada murid-murid Imam Malik.
Syafi’i adalah profil ulama yang tidak pernah puas dalam menuntut ilmu. Semakin banyak ia menuntut ilmu semakin dirasakannya banyak yang tidak diketahuinya. la kemudian meninggalkan Madinah menuju Irak untuk berguru pada ulama besar di sana, antara lain Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan. Keduanya adalah sahabat Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi). Dari kedua imam itu Syafi’i memperoleh pengetahuan yang lebih luas mengenai cara-cara hakim memeriksa dan memutuskan perkara, cara memberi fatwa, cara menjatuhkan hukuman, serta berbagai metode yang diterapkan oleh para mufti di sana yang tidak pernah dilihatnya di Hedzjaz.
Setelah 2 tahun di Irak, Syafi’i melanjutkan perjalanannya ke Persia, lalu ke Hirah, Palestina, dan Ramlah, suatu kota dekat Baitulmakdis, dengan satu tujuan yaitu menuntut ilmu pada ulama-ulama terkemuka dan mencari pengalaman. Dari Ramlah ia kembali ke Madinah dan tinggal di sana bersama Imam Malik kurang lebih 4 tahun sampai wafatnya Imam Malik.
Sebagai pencinta ilmu, Syafi’i mempunyai banyak guru. Begitu banyaknya guru Imam Syafi’i, sehingga Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyusun satu buku khusus yang bernama Tawali at-Ta’sis yang di dalamnya disebut nama-nama ulama yang pernah menjadi guru Syafi’i, antara lain: Imam Muslim bin Khalid, Imam Ibrahim bin Sa’id, Imam Sufyan bin Uyainah, Imam Malik bin Anas (Imam Malik), Imam Ibrahim bin Muhammad, Imam Yahya bin Hasan, Imam Waqi’, Imam Fudail bin lyad, dan Imam Muhammad bin Syafi’.
Aktivitasnya di bidang pendidikan dimulai dengan mengajar di Madinah dan menjadi asisten Imam Malik. Waktu itu usianya sekitar 29 tahun. Sebagai ulama fikih namanya mulai dikenal, muridnya pun berdatangan dari berbagai penjuru wilayah Islam. Selain sebagai ulama ahli fikih ia pun dikenal sebagai ulama ahli hadis, tafsir, bahasa dan kesusastraan Arab, ilmu falak, ilmu usul, dan tarikh. Di samping itu, Syafi’i memiliki kemampuan khusus dalam ilmu kiraah. la sangat mahir dalam melagukan ayat-ayat Al-Qur’an. Suaranya yang bagus dan bahasanya yang fasih memukau setiap orang yang mendengarkan bacaannya.
Syafi’i kemudian pindah ke Yaman atas undangan Abdullah bin Hasan, wali negeri Yaman. Di sana ia diangkat sebagai penasihat khusus dalam urusan hukum, di samping tetap melanjutkan karirnya se­bagai guru. Sama seperti di Madinah, di sini pun Syafi’i mempunyai banyak murid. Oleh wali negeri Yaman, Syafi’i dinikahkan dengan seorang putri bangsawan yang bernama Siti Hamidah binti Nafi’, cicit Usman bin Affan. Perkawinannya ini dianugerahi tiga orang anak, yaitu Abdullah, Fatimah, dan Zainab.
Pada waktu itu orang-orang Syiah di Yaman sedang melangsungkan kegiatannya dengan gencar. Syiah dianggap sebagai kelompok oposisi yang akan menjatuhkan pemerintah resmi di Baghdad. Imam Syafi’i dituduh terlibat dalam aktivitas Syiah dan atas tuduhan itu ia ditangkap dan dibawa ke Baghdad menghadap Khalifah Harun ar-Rasyid. Setelah terbukti tidak bersalah, ia dibebaskan, bahkan Khalifah merasa kagum terhadapnya. Selama di Baghdad, Syafi’i diminta mengajar dan orang-orang Baghdad pun berduyun-duyun datang belajar kepadanya.
Pada tahun 181 H/797 M Syafi’i kembali meng­ajar ke Mekah. Selama 17 tahun di Mekah Syafi’i mengajarkan berbagai macam ilmu agama, terutama kepada para jemaah haji yang datang dari ber­bagai penjuru dunia Islam. Di samping mengajar, ia pun banyak menulis terutama mengenai masalah fikih.
Selanjutnya pada tahun 198 H/813 M Syafi’i pergi ke Baghdad, yaitu pada masa pemerintahan al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M). Sesampainya di sana Syafi’i disambut oleh ulama dan pemuka Baghdad yang telah lama merindukan kedatangannya. Syafi’i diberi tempat mengajar di dalam Masjid Baghdad. Mulanya, di situ ada 20 halaqah (kelom­pok belajar), tetapi setelah Imam Syafi’i datang, hanya tinggal 3 halaqah, yang lainnya menggabungkan diri ke dalam halaqah Imam Syafi’i.
Belum cukup setahun mengajar di Baghdad Syafi’i diminta oleh wali negeri Mesir, Abbas bin Musa, untuk pindah ke Mesir. Dengan rasa berat Syafi’i meninggalkan murid-muridnya di Baghdad menuju Mesir. Di Mesir Syafi’i memberi pengajaran di Masjid Amr bin As, dengan jumlah murid yang tidak kalah banyaknya dari tempat lain. la biasa mengajar mulai pagi hari sampai zuhur. Selesai salat zuhur, baru ia pulang ke rumah. Di waktu sore dan malam hari ia memberikan pelajaran di rumah. Di Mesir Syafi’i menyelesaikan beberapa buah buku. Pikiran-pikiran dan hasil ijtihadnya selama tinggal di Mesir inilah yang kemudian dikenal sebagai pendapat-pendapat Imam Syafi’i yang baru (al-qaul al-jadid), sedangkan pikiran-pikiran dan hasil ijtihad sebelumnya dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim, pendapat Imam Syafi’i yang lama.
Syafi’i adalah figur ulama yang zahid. Pakaian dan tempat tinggalnya sederhana. la tidak suka makan banyak dan menurut pengakuannya sejak kecil ia sudah terbiasa tidak makan sampai kenyang, karena kekenyangan membuat tubuh men­jadi malas, membuat hati jadi beku, dan membuat pikiran jadi tumpul. Orang kenyang enggan beribadat kepada Allah. Walaupun dalam serba kekurangan, Imam Syafi’i memiliki sifat dermawan. Setiap kali menerima hadiah berupa uang dan harta lainnya ia tidak pernah menyimpannya di rumah, melainkan segera dibagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.
Syafi’i juga terkenal dalam ketaatannya dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Ada banyak pengakuan ulama mengenai dirinya, antara lain dari Imam ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Marawi yang mengatakan bahwa Syafi’i menggunakan sebagian besar waktunya di malam hari untuk salat dan mengkhatamkan Al-Qur’an, terutama di bulan Ramadan ia bisa mengkhatam bacaan Al-Qur’an sampai enam puluh kali. Pengakuan yang sama disampaikan oleh Imam Husain al-Karabisi. la berkata, “Saya sering bermalam di rumah Imam Syafi’i dan menyaksikannya setiap malam menghabiskan sepertiga waktunya di akhir malam untuk salat dan mengkhatam Al-Qur’an.”
Imam Syafi’i digelari Nasir as-Sunnah artinya “pembela sunah atau hadis” karena sangat menjunjung tinggi sunah Nabi SAW, sebagaimana ia sa­ngat memuliakan para ahli hadis. Ulama besar, Abdul Halim al-Jundi, menulis sebuah buku dengan judul al-Imam asy-Syafi’i, Nasir as-Sunnah wa Wadi’ al-Usul (Imam Syafi’i, Pembela Sunah dan Peletak Dasar Ilmu Usul Fikih). Di dalamnya diuraikan secara rinci bagaimana sikap dan pembelaan Syafi’i terhadap sunah. Intinya adalah bah­wa Imam Syafi’i sangat mengutamakan sunah Nabi SAW dalam melandasi pendapat-pendapat dan hasil ijtihadnya.
Karena sangat mengutamakan sunah, Syafi’i menjadi sangat berhati-hati dalam menggunakan kias. Menurutnya, kias hanya dapat digunakan da­lam keadaan terpaksa (darurat), yaitu dalam masalah mu’amalah (kemasyarakatan) yang tidak didapati teksnya (nasnya) secara pasti dan jelas di dalam Al-Qur’an atau hadis sahih, atau tidak dijumpai ijmak pada sahabat. Kias sama sekali ti­dak dibenarkan dalam urusan ibadah karena untuk segala yang menyangkut ibadah sudah tertera nas­nya di dalam Al-Qur’an dan sunah Nabi SAW. Dalam penggunaan kias, Syafi’i menegaskan bahwa harus diperhatikan nas-nas Al-Qur’an dan sunah yang telah ada.
Syafi’i berpendapat bahwa bidah ada dua ma-cam: bidah terpuji dan bidah sesat. Dikatakan terpuji jika bidah itu selaras dengan prinsip-prinsip sunah, sebaliknya jika bertentangan dengannya dikatakan bidah sesat. Mengenai taklid, Syafi’i selalu memberikan perhatian kepada murid-muridnya agar tidak menerima begitu saja pendapat-pendapat dan hasil ijtihadnya. Ia tidak senang melihat murid-mu­ridnya bertaklid buta kepada perkataan-perkataannya. Sebaliknya ia menyuruh murid-muridnya untuk bersikap kritis dan berhati-hati dalam mene­rima suatu pendapat.
Dalam meng-istinbat-kan (mengambil dan menetapkan) suatu hukum, Syafi’i dalam bukunya ar-Risalah menjelaskan bahwa ia memakai lima dasar, yaitu,
1) Al-Qur’an,
2) sunah,
3) ijmak,
4) kias, dan
5) istidlal (penalaran).
Kelima dasar inilah yang kemudian dikenal sebagai dasar-dasar mazhab Imam Syafi’i. Dasar pertama dan utama dalam menetapkan hukum adalah Al-Qur’an. Syafi’i terlebih dahulu melihat makna lafzi (perkataan) Al-Qur’an. Kalau suatu masalah tidak menghendaki makna lafzi barulah ia mengambil makna majazi (kiasan). Kalau dalam Al-Qur’an tidak ditemukan hukumnya, ia beralih kepada sunah Nabi SAW. Dalam hal sunah, ia juga memakai hadis ahad (perawinya satu orang) di samping yang mutawatir (perawinya banyak orang), selama hadis ahad itu mencukupi syarat-syaratnya. Jika di dalam sunah pun belum dijumpai nasnya, ia mengambil ijmak sahabat. Setelah mencari dalam ijmak sahabat dan tidak juga ditemukan ketentuan hukumnya barulah ia melakukan kias. Apabila ia tidak menjumpai dalil dari ijmak dan kias, ia memilih jalan istidlal, yaitu menetapkan hukum berdasarkan kaidah-kaidah umum agama Islam.
Sebagai ulama yang tempat mengajarnya berpindah-pindah, Syafi’i mempunyai ribuan murid yang berasal dari berbagai penjuru. Di antaranya yang terkenal adalah ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Ma­rawi, Abdullah bin Zubair al-Hamidi, Yusuf bin Yahya al-Buwaiti, Abu Ibrahim, Isma’il bin Yahya al-Muzani, Yunus bin Abdul A’la as-Sadafi, Ahmad bin Sibti, Yahya bin Wazir al-Misri, Harmalah bin Yahya Abdullah at-Tujaibi, Ahmad bin Hanbal, Hasan bin Ali al-Karabisi, Abu Saur Ibrahim bin Khalid Yamani al-Kalbi, dan Hasan bin Ibrahim bin Muhammad as-Sahab az-Za’farani. Mereka semua berhasil menjadi ulama besar di masanya.
Syafi’i adalah profil ulama yang tekun dan berbakat dalam menulis. Karangannya yang sampai kepada kita antara lain,
(1) ar-Risalah, suatu kitab yang khusus membahas tentang usul fikih dan me-rupakan buku pertama yang ditulis ulama dalam bidang usul fikih. Di dalamnya Syafi’i menguraikan dengan jelas cara-cara mengistinbatkan hukum. Sampai sekarang buku ini tetap merupakan buku standar dalam usul fikih.
(2) Kitab al-Umm, sebuah kitab fikih yang komprehensif. Kitab al-Umm yang ada sekarang terdiri atas tujuh jilid dan mencakup isi beberapa kitab Syafi’i yang lain seperti Siyar al-Ausa’i, Jima’ al-‘Ilm, Ibtal al-Istihsan, dan ar-Radd ‘Ala Muhammad ibn Hasan.
(3) Kitab al-Musnad, berisi tentang hadis-hadis Nabi SAW yang dihimpun dari kitab al-Umm. Di sana dijelaskan keadaan sanad setiap hadis.
(4) Ikhtilaf al-Hadis, suatu kitab hadis yang menguraikan pendapat Syafi’i mengenai perbedaan-perbedaan yang ter-dapat dalam hadis. Terdapat pula buku-buku yang memuat ide-ide dan pikiran-pikiran Imam Syafi’i, tetapi ditulis oleh murid-muridnya, seperti Kitab al-fiqh, al-Muktasar al-Kabir, al-Mukhtasar as-Sagir, dan al-Fara’id. Ketiga yang baru ini dihimpun oleh Imam al-Buwaiti.
SYAFI’I, MAZHAB.
Salah satu aliran dalam fikih di kalangan Ahlusunah waljamaah. Nama ini dinisbahkan kepada Imam Syafi’i yang nama panjangnya Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Imam Syafi’i merupakan pendiri aliran ini yang muncul pada pertengahan abad ke-2 H.
Sebagai pendiri mazhab, Imam Syafi’i memiliki pemikiran fikih yang khas yang berbeda dengan kedua aliran sebelumnya, Mazhab Maliki dan Mazhab Hanafi, meskipun kedua aliran ini telah dipelajarinya secara mendalam. Ketika menetap di Mesir, ia membina para muridnya yang kemudian menjadi ulama-ulama besar sebagai penerus dan penyebar pahamnya. Di antara muridnya yang ter-kenal adalah Abu Saur Ibrahim bin Khalid bin Yamani al-Kalbi, Hasan bin Ibrahim bin Muhammad as-Sahab az-Za’farani, Isma’il bin Yahya al-Muzani, dan ar-Rabi bin Sulaiman al-Marawi. Dari para murid inilah paham-pahamnya tersebar luas dan karya tulisnya menjadi pegangan atau sumber acuan masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya, paham-paham Syafi’i menjadi suatu mazhab fikih yang penganutnya tersebar di berbagai dunia Islam.
Sumber acuan mazhab ini adalah paham dan buah pikiran Syafi’i yang termuat dalam berbagai karya tulisnya, antara lain: Ar-Risalah (kitab usul fikih), al-Umm (kitab yang memuat masalah-masalah fikih), Ikhtilaf al-Hadis (kitab yang berkaitan dengan ilmu hadis), dan al-Musnad (kitab hadis). Kitab-kitab lainnya, yang dihimpun oleh para mu­ridnya, antara lain al-Fiqh (hasil himpunan al-Haramain bin Yahya), al-Mukhtasar al-Kabir, al-Mukhtasar as-Sagir, al-Fara’id (hasil himpunan Imam al-Buwaiti), al-Jami’ al-Kabir, dan as-Sagir (hasil himpunan al-Muzani). Para ulama Mazhab Syafi’i ada yang mengembangkan kitab-kitab tersebut dengan mensyarahkan (menguraikan atau menjelaskan) atau membuat hasyiahnya (komentar). Ada juga yang sengaja menyusun kitab-kitab sebagai karyanya sendiri dengan mengacu pada paham-paham fikih dan metode istinbat Syafi’i.
Adapun yang menjadi dasar dalam pembinaan fikihnya (masadir atau sumber/dasar dan dalil ta-syri’-nya atau hukumnya) sebagaimana yang diterapkan oleh Syafi’i, ialah Al-Qur’an, sunah, ijmak, dan kias. Al-Qur’an merupakan sumber pertama dan sunah sumber kedua. Sunah yang dipakai ada­lah sunah yang nilai kuantitasnya mutawdtir (perawinya banyak orang) maupun yang ahad (perawinya satu orang); sunah yang nilai kualitasnya sahih maupun hasan, bahkan juga sunah yang daif. Adapun syarat-syarat untuk semua sunah yang daif ada­lah:
(1) tidak terlalu lemah,
(2) dibenarkan oleh kaidah umum atau dasar kulli (umum) dari nas,
(3) tidak bertentangan dengan dalil yang kuat atau sahih, dan
(4) hadis tersebut bukan untuk menetap-kan halal dan haram atau masalah keimanan, melainkan sekedar untuk anjuran keutamaan amal (fada’il al a’mal) atau untuk targib (imbauan) dan tarhib (anjuran).
Dalam pandangan Imam Syafi’i hadis mempunyai kedudukan yang begitu tinggi. Bahkan disebut-sebut sebagai salah seorang yang meletakkan hadis setingkat dengan Al-Qur’an dalam kedudukannya sebagai sumber hukum Islam yang harus diamalkan. Karena, menurut Imam Syafi’i, hadis itu mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Al-Qur’an. Bahkan, menurutnya, setiap hukum yang ditetapkan Rasulullah SAW pada hakikatnya me­rupakan hasil pemahaman yang beliau peroleh dari memahami Al-Qur’an. Dengan demikian, memang pada tempatnya jika Imam Syafi’i oleh banyak orang dijuluki sebagai pembela sunah (nasir as-sunnah). Selain berpegang pada Al-Qur’an dan sunah, Imam Syafi’i juga berpegang pada ijmak. Ijmak yang dimaksudkannya ialah suatu hasil kese-pakatan para sahabat secara integral mengenai hu­kum suatu masalah. Kesepakatan ini harus diper-oleh secara jelas. Soal kias, menurut Imam Syafi’i merupakan salah satu dasar hukum Islam untuk mengetahui suatu kepastian hukum yang ketentuannya tidak ditunjuk langsung oleh nas yang sarih (tegas). Jika suatu persoalan hukumnya tidak di­tunjuk secara jelas, baik oleh nas maupun oleh ijmak, maka harus dilakukan ijtihad melalui jalan kias. Kias itu sendiri artinya ilhaqu amrin qair mansusin ‘ala hukmihi bi amrin akhar mansusin ‘ala hukmihi liisytirakihi ma’ahu fl ‘illah al-hukmi (menetapkan hukum atas suatu perbuatan yang belum ada nasnya berdasarkan sesuatu yang sudah ada kepastian hukumnya secara jelas dalam nas, karena terdapat kesamaan ilat [sebab] hukumnya). Di kalangan penganut Mazhab Syafi’i dikenal juga adanya teori/metode maslahat, yakni metode penerapan hukum yang berdasarkan kepentingan umum. Hanya saja maslahat yang digunakannya terbatas pada maslahat yang mu’tabarah (maslahat yang se­cara khusus ditunjuk oleh nas) dan maslahat yang mulaimah lijins tasarrufat asy-Syari’ (maslahat yang sesuai dengan kehendak Allah SWT sebagai pembuat undang-undang).
Mazhab Syafi’i mula-mula tumbuh dan berkembang di Irak. Di sinilah untuk pertama kalinya Imam Syafi’i menyampaikan paham-pahamnya kepada para ulama, ketika ia melawat ke daerah ini dalam rangka meluaskan wawasan ilmunya. Maz­hab ini berkembang cukup subur dan pesat di Mesir, sekalipun pada masa kekuasaan Dinasti Fatimiah mazhab ini sempat mendapat tekanan keras. Dari sini paham-paham Syafi’i terus disebarkan oleh para pengikutnya ke berbagai wilayah, seperti Baghdad, Khurasan, Pakistan, Syam (Suriah), Yaman, Persia (Iran), Hedzjaz, India, dan beberapa daerah Afrika dan Andalusia. Pada perkembangan berikutnya, sampai pada abad modern Islam, maz­hab ini telah memasuki berbagai belahan dunia, antara lain Mesir, Palestina, Suriah, Khurasan, Hedzjaz, Irak, Persia, Hadramaut, Aden, Cina, India, Pakistan, Philipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Untuk beberapa negara atau daerah, mazhab ini juga mengalami pasang surut, yakni berkaitan erat dengan kebijaksanaan pemerintah yang sedang berkuasa. Hal ini dapat dilihat di Iran maupun di Madinah bahwa Mazhab Syafi’i tidak banyak berkembang di kedua negara ini.

MAZHAB AZ-ZAHIRI
Salah satu mazhab fikih yang pernah hidup dan berkembang di dunia Islam, muncul sekitar abad ketiga Hijriah di Irak, didirikan oleh seorang ahli hukum (fakih) bernama Dawud bin Khalaf al-Isfahani (Kufah, 200 H/815 M-Baghdad, 270 H/883 M).
Dawud bin Khalaf al-Isfahani adalah putra dari seorang sekretaris (katib) hakim di Isfahan pada masa Khalifah al-Ma'mun. Dia mempelajari fikih dari tokoh-tokoh Mazhab Syafi'i, seperti Abu Saur Ibrahim bin Khalid Yamani al-Kalbi dan Ishaq bin Rahawaih. Bahkan seperti dikemukakan Abu Zahrah, pemikiran hukum Dawud mungkin disebabkan oleh pengaruh yang "berlebihan" dari kegigihan Imam Syafi'i dalam membela kedudukan sunah sebagai sumber hukum Islam di zamannya, di saat-saat sejumlah fakih (ahli hukum Islam) mengabaikan sunah, bahkan ada kelompok yang disinyalir inkar sunah. Dengan latar belakang-pendidikan yang demikian, ia berpaling dari Mazhab Hanafi yang dianut oleh ayahnya. Akan tetapi, Dawud sendiri bukan penganut Mazhab Syafi'i, melainkan mendirikan mazhab atas namanya sen­diri, Mazhab ad-Dawudi, yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Mazhab az-Zahiri.
Inti pokok dari paham Mazhab az-Zahiri ini berkisar pada masalah sumber hukum dan cara memahaminya. Menurut mazhab ini, sumber hukum fikih hanya nas dalam arti Al-Qur'an dan sunah. Dalam hal tertentu, mazhab ini menerima ijmak para sahabat. Penganut Mazhab az-Zahiri menolak rakyu (akal) dengan segala bentuknya. Mereka tidak mau menggunakan kias, istihsan, al-maslahah al-mursalah, dan sejenisnya. Mereka juga menentang taklid. Mazhab ini menganggap hanya Al-Qur'an dan sunah sebagai sumber hukum, sedangkan masalah-masalah yang tidak disinggung oleh nas akan dikembalikan hukumnya dengan hu­kum istishab. Pandangan ini diambil berdasarkan firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 29 yang artinya: "Dialah Allah, yang menjadikan se­gala yang ada di bumi untuk kamu..."
Selanjutnya, di dalam memahami kandungan nas Al-Qur'an dan sunah, mazhab ini hanya mengambil arti zahir (lahir) lafal nas dan sama sekali tidak melakukan takwil terhadap nas tersebut. Karena prinsip semata-mata mengambil arti zahir nas inilah, maka mazhab ini diberi nama Mazhab az-Zahiri, suatu mazhab fikih yang secara ekstrem hanya berpegang pada arti zahir nas dan menolak takwil.
Menurut analisis sebagian ahli, mazhab ini mun­cul sebagai reaksi terhadap beberapa pemikiran, terutama di bidang fikih, yang berkembang pada abad kedua Hijriah. Pada abad itu terjadi pertentangan antara ahlulhadis (golongan yang dalam menetapkan hukum berpegang pada Al-Qur'an dan hadis, tidak mau menggunakan ijtihad) dan ahlur ra'yi (golongan yang dalam menetapkan hu­kum selain berpegang pada Al-Qur'an dan hadis juga menggunakan akal pikiran atau ijtihad). Pada waktu yang sama, telah lahir pula gerakan Batiniah di kalangan kaum Syiah, suatu aliran yang hanya mengambil arti batin dari nas. Selain daripada itu, telah lahir pula aliran Muktazilah yang memandang akal lebih utama dan lebih menentukan daripada wahyu dalam menetapkan segala persoalan agama. Mazhab az-Zahiri lahir sebagai reaksi terhadap aliran-aliran yang berkembang di masa itu, terutama aliran Batiniah kaum Syiah.
Dalam sejarah perkembangannya, Mazhab az-Zahiri ini pernah berkembang pesat dan tersebar luas serta mempunyai pengikut yang tidak sedikit jumlahnya. Pada abad ketiga dan keempat Hijriah, az-Zahiri merupakan mazhab fikih keempat di du­nia Islam, setelah Mazhab Syafi'i, Mazhab Hanafi, dan Mazhab Maliki. Mazhab ini pernah tersebar lebih luas dan mempunyai pengikut yang lebih banyak daripada Mazhab Hanbali. Akan tetapi, pada abad berikutnya, yakni abad kelima, Mazhab az-Zahiri mulai mengalami kemunduran dan kehilangan pengaruh serta pengikut di dunia Timur. Hadirnya seorang tokoh Mazhab Hanbali kenamaan, Muhammad bin Husain bin Muhammad Abu Ya'la al-Farra' al-Hanbali (seorang ulama usul fikih yang juga memiliki pengetahuan luas tentang Al-Qur'an dan hadis, w. 458 H/1065 M), telah mengangkat kedudukan Mazhab Hanbali dan berhasil menggeser posisi Mazhab az-Zahiri. Sejak saat itu, Mazhab az-Zahiri perlahan-lahan lenyap dari belahan bumi dunia Islam.
Akan tetapi, ketika popularitas dan pengaruh Mazhab az-Zahiri memudar di dunia Timur, justru bintang az-Zahiri memancarkan sinar terang di ufuk Barat, yakni di Andalusia. Hidup dan berkembangnya mazhab ini di Andalusia bukan karena dianut oleh banyak pengikut, melainkan karena tampilnya seorang tokoh yang bermata penatajam, fasih, berarguraen kuat, dan gigih membela mazhabnya. Tokoh tersebut adalah Ibn Hazm al-An-dalusi.
Proses penyebaran dan perpindahan Mazhab az-Zahiri ke Andalusia telah terjadi ketika Dawud bin Khalaf masih hidup. Menurut suatu keterangan, pada abad ketiga Hijriah banyak ulama An­dalusia pergi merantau ke Timur untuk menimba ilmu. Di antara mereka itu ada yang bertemu langsung dengan tokoh pendiri mazhab, seperti Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) dan Dawud bin Khalaf al-Isfahani. Setelah kembali ke Anda­lusia, mereka menyebarkan paham mazhab-mazhab fikih yang mereka pelajari di Timur, termasuk paham Mazhab az-Zahiri. Di antara mereka yang menyebarkan paham mazhab yang disebut terakhir adalah Munzir bin Sa'id al-Balluti (273 H-355 H).
Mazhab ini mencapai masa gemilangnya pada masa Ibn Hazm. Melalui tokoh ini Mazhab az-Za­hiri tumbuh kuat di Andalusia. Namun karena kematiannya pula, mazhab ini dalam waktu relatif singkat menjadi lemah.
Meskipun dewasa ini Mazhab az-Zahiri tidak mempunyai pengikut sebanyak pengikut mazhab fikih yang empat, namun paham dan ide-idenya masih terpelihara baik dan dapat dikaji di dalam berbagai karya tulis yang ditinggalkan oleh para tokohnya, baik karya Dawud bin Khalaf al-Isfahani sendiri maupun karya Ibn Hazm al-Andalusi, di samping sejumlah kitab fikih lain yang di sana-sini juga mengetengahkan sebagian paham az-Zahiri.

Tidak ada komentar:

ANDA INGIN SUKSES BERGABUNGLAH…………INVESTASI DI IZZY CENTRE
(Invest dengan keuntungan sangat menakjubkan)

SUDAH TERBUKTI banyak orang yang telah sukses mereka yang ikut program ini, mereka bisa membeli kaplingan tanah yang sangat luas yang berisi taman dan segala fasilitas yang diperlukan lengkap dengan hotel dan gadis cantiknya tinggal pilih seperti apa yang mereka suka, kecantikannya, kemolekannya tak akan pernah pudar selalu oke.., tidak akan pernah mereka jumpai dalam keadaan second, selalu orisinil.

Adapun fasilitas-fasilitas yang lain semua serba lengkap tak kan dijumpai sesuatu yang mereka inginkan tidak terpenuhi, selalu ada apa yang mereka inginkan dan dalam sekejap telah terhidangkan. Inilah suatu bentuk kesuksesan bukan sembarang sukses, kesuksesan yang bukan hanya dapat dini’mati di dunia yang fana’ ini yang akan hancur binasa tetapi kesuksesannya dapat dini’mati di hari ketika kita sangat membutuhkan dimana tidak ada lagi pertolongan dari siapapun kecuali dari perbuatan baik kita sendiri(amal shaleh)

Orang –orang yang telah sukses seperti Abu Bakar r.a., Umar bin Choth-thob r.a., Utsman bin Affan r.a. dan shahabat-shahabat Nabi yang lain seperti Abdurrahman bin Auf r.a. mereka adalah orang terkaya yang mempunyai tanah yang sangat luas yang dipenuhi dengan berbagai aneka macam fasilitas yang berkelas dunia akherat.Maka bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejak mereka pasti akan sukses tan tak akan di dijumpai kata gagal, karena banyak sekali isyarat-isyarat dari orang yang pernah survei taman-taman (syurga) mereka yakni baginda Rasulullah SAW yang sempat mampir disana ketika prosesi ISRA’ MI’RAJ.

sudah jelas penjelasan –penjelasan dari beliau SAW yang menerangkan tentang invest akherat yang akan mendatangkan laba/untung yang berlipat-lipat. Invest ini akan di prioritaskan untuk proyek pengadaan GENERASI ISLAM YANG MUMPUNI BERIMAN DAN BERTAKWA dari golongan yang berlatar belakang lemah(yatim/piatu/dhuafa’), dimana proyek ini akan menelan biaya milyaran rupiah.(silahkan buka IZZY CENTRE ISLAM BANGKIT ISLAM JAYA)

Bagi yang ingin Invest hub:
Ahmad Izzy Ar Rifai

0812 80 7007 42