...أَهْلاً وَسَهْلاً...Welcome...Sugeng Rawuh...
Selamat Datang...
INSYA ALLAH kami akan selalu memberikan manfaat buat Pengunjung......

Selasa, 17 Februari 2009

Periode Perkembangan Hadis

Sebagai sumber kedua ajaran Islam, hadis telah melewati proses sejarah yang sangat panjang. Oleh para ahli di­katakan bahwa sampai masa sekarang, hadis telah melewati sedikitnya tujuh masa atau periode perkembangan.
Periode Pertama. Periode pertama ialah masa wahyu dan pembentukan hukum serta dasar-dasarnya (Masa Kerasulan, dari 13 Sebelum Hijriah 11H). Pada masa ini, Nabi SAW hidup di tengah-tengah masyarakat umumnya dan di tengah-tengah para sahabat pada khususnya, baik sewaktu ia tinggal di Mekah maupun setelah hijrah ke Madinah. Seperti anggota masyarakat pada umumnya, Nabi SAW pun bergaul dan berbicara dengan orang lain dan para sahabatnya di rumah, di masjid, di pasar, di jalan, dan dalam keadaan musafir ataupun tidak. Para sahabatnya pun dengan bebas mengunjungi dan berbicara dengannya kapan dan di mana saja, kecuali pada waktu dan situasi tertentu seperti yang diajarkan oleh Al-Qur’an. Misalnya, larangan menemui Nabi SAW pada saat Nabi SAW sedang beristirahat. Kemudahan untuk melihat dan berjumpa dengan Nabi SAW membuat seluruh ucapan-ucapannya, tingkah laku serta perbuatannya, dan sikap-sikapnya dengan mudah pula menjadi tumpuan perhatian dan pengamatan para sahabat. Semua segi dari sosok Nabi SAW mereka jadikan sebagai teladan kehidupan. Pada sisi lain, Nabi SAW yang kalau berbicara perlahan, jelas, dan kalau perlu mengulangi ucapannya itu, memiliki kemampuan menggunakan dialek-dialek mitra bicaranya atau orang-orang yang dihadapinya. Ide-ide dan ucapannya seringkali dirasakan oleh mitra dialognya sebagai sesuatu yang sangat memukau. Nabi SAW di mata sahabatnya dengan sangat sempurna telah tampil sebagai idola. Di masa ini, Nabi SAW memerintahkan untuk menulis setiap wahyu yang turun. Di masa ini juga terdapat larangan me­nulis hadis. Tetapi dengan berbagai alasan, sebagian sahabat berinisiatif menulisnya di samping wahyu Al-Qur’an. Larangan tersebut bukan karena dikuatirkan akan bercampur-baur dengan Al-Qur’an, akan tetapi semata-mata supaya semua potensi ditujukan dan diarahkan pada Al-Qur’an. Walaupun demikian, perhatian penuh sahabat untuk tidak hanya mencatat Al-Qur’an tetap tumbuh dan terpelihara. Sahabat Anas bin Malik misalnya mengatakan: “Ketika kami berada di sisi Nabi, kami simak hadisnya, dan ketika kami bubar, kami mendiskusikan hadis tersebut hingga kami menghapalnya.”
Di masa ini, dapat disebutkan beberapa cara sahabat dalam menerima hadis. Pertama hadis diterima secara langsung, yaitu: (1) melalui majelis pengajian Nabi SAW yang diadakan pada waktu-waktu tertentu; (2) adanya perilaku umat yang disaksikan oleh Nabi SAW, yang menghendaki penjelasan atau jawaban langsung dari Nabi SAW. Contoh dalam hal ini tergambar dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, yang sanad (kesinambungan antara dua rawi hadis) nya berujung pada Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW memergoki seorang penjual makanan, yang karena tampaknya mencurigakan, Nabi SAW lalu bertanya kepadanya tentang bagaimana cara ia menjual dagangannya itu. Lalu orang itu pun menjelaskan kepada Nabi SAW. Kemudian Nabi SAW meminta orang ter­sebut agar memasukkan tangannya ke dalam barang dagangannya itu. Permintaan Nabi SAW dipenuhinya, tetapi kemudian terlihat oleh Nabi SAW tangannya basah setelah ia menarik benda dagang­annya. Artinya, bagian atas barang dagangannya itu kering, sedangkan bagian bawahnya basah. Menyaksikan cara berjualan yang tidak jujur ini, bersabdalah Nabi SAW: “Tidak termasuk golongan kami orang yang menipu”; (3) pertanyaan yang diajukan oleh sahabat atau atas permintaan penjelasan dari sahabat kepada Nabi SAW. Contoh dalam hal ini ialah hadis riwayat Bukhari dari Uqbah bin Haris. Seorang wanita menerangkan kepada Uq­bah bahwa ia telah menyusui Uqbah dan istrinya di waktu keduanya masih kecil. Setelah mendengar hal itu dan karena ia tinggal di Mekah, Uqbah segera berangkat ke Madinah untuk menemui dan menceritakan keterangan wanita tersebut kepada Nabi SAW. Uqbah menginginkan penjelasan tentang hukum seorang laki-laki, yang karena tidak tahu, menikahi seorang wanita sepersusuan. Ketika itu lahirlah hadis Nabi SAW dengan sabdanya: “Bagaimana lagi, padahal telah diterangkan orang.” Serta merta setelah itu Uqbah menceraikan istri­nya, kemudian istrinya pun menikah lagi dengan orang lain; (4) adanya peristiwa yang langsung dialami oleh Nabi SAW dan sahabat menyaksikan reaksi Nabi SAW terhadap peristiwa tersebut. Contoh dalam hal ini ialah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Khalid bin Walid makan dab (sejenis biawak) yang dihidangkan orang kepada Nabi SAW, padahal Nabi SAW sendiri enggan memakannya. Maka Khalid bertanya: “Apakah kita diharamkan memakan dab, ya Ra­sulullah?” Nabi SAW menjawab: “Tidak, hanya binatang ini tidak ada di negeri saya, karena itu saya tidak memakannya. Makanlah, sesungguhnya ia itu halal.”
Kedua,(hadis diterima secara tidak langsung. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor. (1) Kesibukan yang dialami sahabat. Hal ini tercermin, mi­salnya, pada kesepakatan antara Umar bin Khattab dan Ibnu Zaid, tetangganya, untuk saling bergantian hadir dalam majelis pengajian Nabi SAW bila salah seorang dari mereka terpaksa berhalangan hadir. (2) Tempat tinggal sahabat yang jauh. Dalam hal ini mereka menerima hadis dari tangan orang kedua sesudah Nabi SAW. (3) Perasaan malu untuk bertanya langsung kepada Nabi SAW. Con­toh dalam hal ini adalah riwayat Bukhari dan Mus­lim dari Aisyah binti Abu Bakar. Seorang wanita datang kepada Nabi SAW untuk bertanya tentang bagaimana semestinya melakukan mandi untuk membersihkan diri dari haid. Nabi SAW men­jawab: “Ambillah sepotong kain perca (bekas potongan) yang sudah dikesturikan, lalu berwudulah dengannya.” Jawaban Nabi SAW tersebut tidak segera dipahami oleh wanita itu, sehingga ia ber­tanya lagi: “Bagaimana saya berwudu dengannya?” Nabi SAW tetap dengan jawaban semula, yang te­tap saja tidak dipahami oleh wanita tersebut. Nabi SAW pun meminta Aisyah, istrinya, menjelaskan hal tersebut secara terperinci dan Aisyah menerangkannya untuk wanita tersebut. Contoh ini bisa pula diterapkan pada faktor berikut ini. (4) Nabi SAW sendiri yang menghendaki adanya perantara. Dengan demikian, sejak periode ini terdapat perbedaan tingkat cara penerimaan hadis di kalangan sahabat. Selain sebab-sebab yang telah di­sebutkan, masih ada faktor lain, yaitu tingkat kemampuan, termasuk tingkat kecerdasan di antara mereka. Hal ini telah ikut menentukan kualitas pe­nerimaan dan juga penyampaian hadis.
Periode ini menunjukkan beberapa ciri tertentu, antara lain: (1) keaktifan para sahabat dalam me­nerima hadis dan menyalinnya pada catatan-catatan mereka sendiri yang disebut sahifah, yaitu tulisan pada pelepah kurma, kulit kayu, dan tulang-tulang hewan. Tetapi karena di masa ini terdapat larangan menulis hadis, maka para sahabat dalam menerima hadis berpegang pada kekuatan hapalan mereka. Selain itu hal ini juga disebabkan di masa ini sahabat Nabi SAW yang bisa menulis sangat sedikit; (2) hadis diterima dan disampaikan dengan mengandalkan kekuatan hapalan.
Para sahabat yang banyak menerima hadis di masa ini ada beberapa kelompok. Pertama, mereka yang mula-mula masuk Islam yang dinamai as-sabiqun al-awwalun. Misalnya, para al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah pertama) dan Abdullah bin Mas’ud. Kedua, mereka yang selalu berada di samping Nabi SAW dan bersungguh-sungguh menghapal hadisnya, seperti Abu Hurairah, atau yang mencatatnya, seperti Abdullah bin Amr bin As. Ketiga, mereka yang berusia panjang, seperti Anas bin Malik dan Abdullah bin Abbas. Keempat, mereka yang secara pribadi erat hubungannya de­ngan Nabi SAW, yaitu para istri Nabi SAW, seperti Aisyah dan Ummu Salamah.
Adanya larangan menulis hadis di masa ini oleh para ulama dipahami sebagai sesuatu yang bersifat umum. Tetapi Nabi SAW tetap membolehkan adanya penulisan hadis. Kebolehan ini bersifat sangat khusus, yaitu hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak dikuatirkan akan mencampurbaurkan antara catatan-catatan wahyu Al-Qur’an dan hadis. Larangan penulisan hadis pun merupakan larang­an pembukuan hadis secara resmi. Sesungguhnya, semuanya itu bisa dipahami berhubung pada masa itu wahyu Al-Qur’an dalam proses turun secara bertahap dan dengan bimbingan wahyu Nabi SAW membangun serta membentuk masyarakat. Karena itu, masa ini disebut ‘Asr al-Wahy wa Takwin (Masa Turunnya Wahyu dan Pembentukan Masyarakat). Di antara sahabat yang menulis hadis adalah Ab­dullah bin Amr bin As (7 Sebelum Hijriah 65 H) dengan naskahnya yang berjudul as-Sahifah as-Sadiqah dan Jabir bin Abdullah al-Ansari (16-73 H) dengan naskahnya yang berjudul Sahifah Jabir.
Periode Kedua. Periode ini disebut Zaman at-Tasabbut wa al-Iqlal min ar-Riwayah (Periode Membatasi Hadis dan Menyedikitkan Riwayat), yaitu pada masa khalifah empat (Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab , Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib). Di antara persoalan yang sa­ngat menonjol dan menyita banyak perhatian para sahabat di masa ini, di samping usaha penyebarluasan Islam, adalah soal ketatanegaraan dan soal kepemimpinan umat. Tanpa mengabaikan usaha-usaha mendasar yang telah dilakukan oleh keempat khalifah tersebut, situasi politik dengan dampak tumbuhnya perpecahan di kalangan intern kepe­mimpinan umat telah melahirkan bermacam-macam fitnah dan berbagai intrik. Hadis pun tidak luput dari dampak tersebut. Dapat dimengerti kalau Khalifah Abu Bakar dan kemudian penggantinya, Umar bin Khattab, menyerukan kepada umat untuk bersikap hati-hati dan cermat dalam meriwayatkan hadis serta meminta kepada para sahabat untuk memeriksa dengan teliti riwayat hadis yang mereka terima.
Ada riwayat bahwa Abu Bakar sendiri telah bersedia membakar sahifah-sahifah miliknya. Tindakan Abu Bakar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) mungkin Abu Bakar merasa bahwa catatan-catatan hadisnya tersebut tidak persis de­ngan apa yang telah disampaikan oleh Nabi SAW dan (2) mungkin, menurut Abu Bakar sendiri, apa yang dibakarnya itu sudah sama dengan yang ter­dapat pada sahabat lainnya.
Terdapat riwayat lain bahwa di depan Abu Salamah, Abu Hurairah mengaku bahwa seandainya ia meriwayatkan hadis di masa Umar menjadi khalifah, seperti yang ia lakukan pada masa itu (setelah Umar wafat), niscaya Umar akan mencambuknya. Riwayat lain mengatakan, Umar menentang keras riwayat hadis atau mereka yang datang membawa kabar (hadis) hukum tanpa diperkuat oleh seorang saksi. la juga menekankan para sahabat supaya menyedikitkan riwayat.
Pada beberapa sumber disebutkan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak menerima hadis jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seseorang yang lain. Sementara terdapat pula sumber lainnya yang menyatakan kedua sahabat itu menerima riwayat orang-perorang (tanpa saksi). Sumber yang per­tama menunjukkan betapa ketat kedua sahabat dan juga sahabat lainnya dalam menerima hadis. Pada sumber kedua bisa dijelaskan bahwa saksi tidak merupakan syarat mutlak; saksi hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima suatu riwayat. Dengan penjelasan serupa dapat dipahami adanya sumber yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Talib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah.
Periwayatan hadis di masa kekhalifahan Usman bin Affan dan Ali bin Abi Talib meneruskan ciri dari dua khalifah pendahulunya. Tetapi, perkembangan masyarakat pada waklu itu sudah berbeda dengan waktu sebelumnya. Banyak sahabat yang sudah berpencar ke daerah-daerah baru. Perkembangan dan perubahan tersebut membawa pengaruh. Misalnya, bila di zaman Umar larangan periwayatan hadis dapat dilakukan dengan tegas, maka di zaman Usman dan Ali larangan itu tidak setegas zaman sebelumnya. Para sahabat sebagai narasumber hadis tidak lagi hanya bermukim di Madinah sebagai akibat kebijaksanaan yang diterapkan oleh Umar yang melarang para sahabat pindah ke luar kota tersebut, tetapi mereka terpencar-pencar ke beberapa daerah baru. Akibatnya, penyebaran dan pengembangan riwayat secara lebih jauh mulai tak terhindarkan.
Periode Ketiga. Disebut Zaman Intisyar ar-Ri-wayah ila al-Amsar (Periode Penyebaran Riwayat ke Kota-Kota), berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar. Penaklukan yang dilakukan oleh tentara Islam atas wilayah Syam (Suriah) dan Irak (17 H), Mesir (20 H), Persia (21 H), Sa­markand (56 H), dan Spanyol (93 H) mengharuskan para sahabat berpindah ke tempat-tempat baru tersebut untuk keperluan mengajarkan agama Islam bagi penduduk setempat. Pada perkembangan selanjutnya, seorang sahabat yang mendengar suatu riwayat (hadis) yang belum pernah didengarnya merasa perlu berkunjung ke kota tempat tinggal sahabat yang disebutkan meriwayatkan hadis tersebut. Berita kedatangan seorang sahabat di suatu daerah mengundang perhatian tabiin untuk mendatanginya dan berkerumun di sekitar sahabat tersebut untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran daripadanya, termasuk pengajaran tentang hadis. Dalam riwayat Bukhari, Ahmad, at-Tabari, dan al-Baihaki disebutkan bahwa Jabir pernah pergi ke Syam (Suriah) dengan maksud menanyakan sebuah hadis pada seorang sahabat yang tinggal di sana. Hal yang sama telah dilakukan pula oleh Abu Ayyub al-Ansari yang melawat ke Mesir untuk menemui Uqbah bin Amr untuk menanyakan sebuah hadis.
Dengan demikian periode ini ditandai oleh aktifnya generasi tabiin mencari dan menyerap hadis-hadis dari generasi sahabat yang masih hidup. Pada periode ini, terkenallah sahabat-sahabat yang dijuluki sebagai “bendaharawan” hadis, yaitu me­reka yang meriwayatkan lebih dari seribu hadis. Di antara mereka adalah: (1) Abu Hurairah, meriwa­yatkan 5.374 hadis; (2) Abdullah bin Umar bin Khattab, meriwayatkan 2.630 hadis; (3) Anas bin Malik, meriwayatkan 2.266 hadis; (4) Aisyah, meri­wayatkan 1.210 hadis; (5) Abdullah bin Abbas, me­riwayatkan 1.660 hadis; (6) Jabir bin Abdullah, meriwayatkan 1.540 hadis; dan (7) Abu Sa’id al-Khudri, meriwayatkan 1.170 hadis.
Di masa ini terdapat pula sahabat yang menyedikitkan riwayat karena takut terjerumus dalam kedustaan atau takut karena usia lanjut sehingga banyak hadis yang terlupakan. Az-Zubair dan Zaid bin Arqam adalah contoh dari sekian sahabat yang mengambil sikap seperti ini.
Adapun di antara tabiin yang tercatat sebagai tokoh-tokoh hadis pada periode ini adalah Sa’id dan Urwah di Madinah, Ikrimah dan Ata bin Abi Rabah di Mekah, asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakha’i di Kufah, Abu Qatadah dan Muhammad bin Sirin di Basra, Umar bin Abdul Aziz dan Qa-bisah bin Zuaib di Syam (Suriah), Abu Khair Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesir, dan Tawus bin Kaisan al-Yamani serta Wahab bin Munabbih di Yaman. Kota-kota dan wilayah-wilayah yang disebutkan di atas juga sekaligus menjadi pusat hadis.
Perkembangan tersebut, di samping pengaruh politik serta fitnah dan intrik-intrik lain dari masa-masa sebelumnya, memberi peluang bagi berkembangnya pemalsuan hadis Pada periode ini riwayat-riwayat yang palsu semakin bertambah dan beragam coraknya. Menurut versi pengarang kitab Nahj al-Balagah (Metode Balagah), Ibnu Abi al-Hadid (seorang ulama Syiah), pemalsuan hadis mula-mula dilakukan oleh golongan Syiah sendiri dalam bentuk pemujaan terhadap keutamaan pribadi-pribadi. Tragisnya, perbuatan mereka ini ditandingi oleh golongan Suni. Karena di masa ini Irak merupakan pusat orang-orang Syiah, maka kuat dugaan bahwa daerah tersebut menjadi asal mula munculnya hadis-hadis palsu.
Periode Keempat. Disebut ‘Asr al-Kitabat wa at-Tadwin (Periode Penulisan dan Kodifikasi Resmi), berlangsung dari masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/717-720 M) sampai akhir abad ke-2 H. Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal jujur dan mempunyai minat pada ilmu pengetahuan mengambil langkah dan kebijaksana­an terhadap hadis yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh semua khalifah pendahulunya. Khalifah ini menangkap kenyataan bahwa para penghapal hadis semakin berkurang jumlahnya karena meninggal. Tumbuh rasa khawatir dalam diri Khalifah, apabila hadis tidak segera dikumpulkan dan dibukukan, maka berangsur-angsur akan hilang. Rasa khawatir itulah yang menyebabkan Khalifah memerintahkan gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm (w. 117 H), supaya membukukan hadis Nabi SAW yang terdapat pada penghapal wanita terkenal dan se-orang ahli fikih murid Aisyah RA, Amrah binti Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah bin Ades, serta hadis-hadis yang ada pada Qasim bin Mu­hammad bin Abu Bakar as-Siddiq, seorang pemuka tabiin dan salah seorang dari tujuh fukaha (ahli fikih) Madinah.
Umar bin Abdul Aziz juga mengirim surat kepada semua gubernur dalam wilayah kekuasaannya untuk mengambil langkah serupa pada penghapal dan ulama hadis di tempat mereka masing-masing. Kebijaksanaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini oleh sejarah dicatat sebagai kodifikasi hadis yang pertama secara resmi. Pengertian “resmi” di sini ialah kebijaksanaan itu dilaksanakan atas perintah penguasa yang sah dan disebarluaskan ke seluruh jajaran kekuasaannya. Abu Bakar Muhammad bin Syihab az-Zuhri (w. 124 H) tercatat sebagai ulama besar pertama yang membukukan hadis-hadis. Selanjutnya, kodifikasi hadis dilakukan oleh para ulama atas anjuran dan dukungan para khalifah, seperti Khalifah Abu Abbas as-Saffah dan khalifah-khalifah keturunannya dari Dinasti Abbasiyah.
Periode pendewanan hadis yang disponsori oleh khalifah-khalifah Abbasiyah ini melahirkan ulama-ulama hadis, seperti Ibnu Juraij (w. 150 H) di Mekah, Abu Ishaq (w. 151 H) dan Imam Malik (w. 179 H) di Madinah, ar-Rabi bin Sabih (w. 160 H) dan Hammad bin Salamah (w. 176 H) di Basra, *Sufyan as-Sauri (w. 161 H) di Kufah, dan Abdur­rahman al-Auza’i (w. 156 H) di Syam (Suriah). Oleh karena mereka hidup dalam generasi yang sama, yaitu pada abad ke-2 H, sukar untuk ditetapkan siapa di antara mereka yang lebih dahulu muncul. Namun yang jelas adalah mereka itu sama-sama berguru kepada Ibn Hazm dan Ibnu Syihab az-Zuhri.
Di antara ciri-ciri hadis yang didewankan pada abad ke-2 H ini adalah mereka tidak menghiraukan atau belum sempat menyeleksi apakah yang me­reka dewankan itu hadis Nabi SAW semata-mata ataukah termasuk juga di dalamnya fatwa-fatwa sahabat dan tabiin. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka belum membuat pengelompdkan kandungan nas-nas (teks) hadis menurut kelompok-kelompok-nya. Dengan demikian karya ulama abad ini masih bercampur-aduk antara hadis-hadis Rasulullah SAW dan fatwa-fatwa sahabat serta tabiin. Dengan demikian, dalam kitab-kitab hadis karya ulama-ulama tersebut belum dipisahkan antara hadis-hadis yang marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi SAW), mauquf (yang disandarkan kepada sahabat), dan maqtu’ (yang disandarkan kepada tabiin) serta an­tara hadis sahih, hasan, dan daif (lemah).
Dalam periode keempat ini sejumlah hadis berhasil dihimpun dalam buku-buku yang dinamakan al-Jami’, al-Musannaf, al-Musnad, dan Iain-lain. Misalnya, al-Musnad susunan Imam Syafi'i , al-Musannaf susunan al-Auza’i, dan al-Muwalta’ su­sunan Imam Malik yang disusun atas permintaan Khalifah Abu Ja'far al-Mansur (144 H).
Dalam periode ini pemalsuan hadis juga semakin meluas. Yang agak menonjol adalah pemalsuan hadis dalam rangka kepentingan politik, di samping pemalsuan yang dilakukan oleh golongan zindik dan tukang-tukang kisah untuk menarik minat para pendengarnya. Ada kemungkinan, kisah-kisah itu banyak yang disandarkan pada hadis-hadis maudu’ (lemah). Kenyataan tersebut mendorong lahirnya ulama-ulama di bidang hadis yang memusatkan perhatiannya dalam persoalan rawi jarh (penolakan terhadap rawi), dan ta’dil (penerimaan terhadap rawi). Walaupun demikian, kegiatan penulisan dan kodifikasi hadis tetap berjalan dan semakin berkembang.
Periode Kelima. Disebut ‘Asr at-Tajrid wa at-Tashih wa at-Tanqih (Periode Pemurnian, Penyehatan, dan Penyempurnaan), dari awal abad ke-3 sampai akhir abad ke-3 H. Periode ini menanggung dan mencarikan pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan hadis yang muncul dan belum diselesaikan pada periode sebelumnya. Pemisahan antara hadis Nabi SAW dan fatwa sahabat yang mulai terasa keperluannya dan adanya pemalsuan-pemalsuan hadis yang telah menarik perhatian para ulama pada masa sebelumnya pada periode ini semakin terasa mendesak untuk ditangani. Para ulama pun di masa ini menghimpun dan membuku­kan hadis-hadis Nabi SAW ke dalam buku hadis dan memisahkannya dari fatwa-fatwa sahabat. Kegiatan-kegiatan lainnya di masa ini antara lain: (1) perlawatan ke daerah-daerah yang semakin jauh guna menghimpun hadis-hadis dari para rawi semakin meningkat; (2) membuat klasifikasi hadis pada yang marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi SAW), yang mauquf (yang disandarkan kepada sahabat), dan yang maqtu’ (yang disandarkan kepada tabiin); dan (3) menghimpun kritik-kritik yang diarahkan baik kepada rawi (yang meriwayatkan) maupun matan (teks) hadis, dan memberikan jawaban atas kritik tersebut.
Sebagai tindak lanjut dari usaha pemisahan antara hadis dan fatwa sahabat, di masa ini lahirlah buku-buku hadis dalam corak lebih baru yang dinamakan kitab Sahih, kitab Sunan, dan kitab Musnad. Kitab Sahih adalah kitab yang memuat hadis-hadis sahih saja. Kitab Sunan adalah kitab yang memuat seluruh hadis, kecuali hadis yang sangat daif dan munkar (sangat lemah). Adapun Musnad adalah kitab yang memuat semua hadis, baik sahih, hasan, maupun daif.
Di masa ini bangkit imam hadis yang besar, Ishaq bin Rahawaih, yang merintis usaha memisahkan hadis-hadis yang sahih dari yang tidak. Usaha ini dilanjutkan dengan sangat baik oleh Imam Bukhari dan muridnya, Imam Muslim, dengan menyusun kitab hadisnya, yang masing-masing dinamai kitab Sahih. Imam-imam hadis terkenal lainnya, seperti Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, mulai pula menyusun kitab-kitab Su­nan mereka. Begitu pula Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) dengan kitab Musnad-nya. Penyusun kitab Musnad lainnya antara lain Musa al-Abbasi, Musaddad al-Basri, Asad bin Musa, dan Nu’aim bin Hamad al-Khaza’i. Kitab-kitab itu oleh pengarangnya juga dimaksudkan sebagai jawaban atas usaha pemalsuan hadis dari pihak-pihak yang telah disebutkan dan dari kalangan mazhab-mazhab fikih, aliran-aliran kalam/teologi, dan tasawuf yang fanatik dalam membela golongannya.
Periode Keenam. Disebut ‘Asr at-Tahzib wa at-Tartib wa al-Istidrak wa al-Jam’ (Periode Pemeliharaan, Penertiban, Penambahan, dan Penghimpunan), mulai abad ke-4 H sampai jatuhnya kota Baghdad (656 H/1258 M). Ulama-ulama hadis telah menetapkan bahwa para ahli yang hidup sebelum abad ke-4 H atau periode ini disebut mutakadimin (pendahulu), sedangkan sesudahnya disebut muta’akhkhirin. Ulama hadis mutakadimin pada umumnya melakukan kegiatan mereka secara mandiri, dalam arti mengumpulkan hadis dan memeriksanya sendiri dengan menemui para penghafalnya yang tersebar di banyak pelosok negeri. Adapun kegiatan ulama hadis muta’akhkhirin pada umum­nya bersandar pada karya-karya ulama mutaka­dimin, dalam arti hadis yang mereka kumpulkan merupakan petikan atau nukilan dari kitab-kitab mutakadimin.
Pada periode ini tumbuh asumsi untuk merasa cukup dengan hadis-hadis yang telah dihimpun oleh ulama mutakadimin. Oleh karena itu dirasakan tidak perlu lagi melakukan lawatan ke berbagai negeri untuk mencari hadis. Semangat di masa ini adalah semangat memelihara apa yang telah dikerjakan oleh para pendahulu mereka.
Para ulama hadis dalam periode ini saling berlomba untuk menghapal sebanyak-banyaknya hadis yang telah terdewan, sehingga tidak mustahil sebagian dari mereka sanggup menghapal beratus-ratus ribu hadis. Sejak periode ini timbul bermacam-macam gelar keahlian dalam ilmu hadis, seperti al-Hakim dan al-Hafiz.
Selain itu, ulama dalam periode keenam ini berusaha untuk memperbaiki susunan kitab, mengum­pulkan yang masih berserakan, dan memudahkan jalan-jalan pengambilan hadis. Pengumpulan ha­dis-hadis untuk disusun dalam bagian-bagian yang lebih sistematis, misalnya menghimpun dan membukukan hadis-hadis tentang hukum, lebih digiatkan. Di masa ini pula bermunculan kitab-kitab syarh atau syarah, yaitu kitab yang mengomentari kitab hadis tertentu, yang lebih banyak dibuat dari masa sebelumnya. Kegiatan lain di masa ini adalah istikhraj, yaitu mengambil suatu hadis dari ulama hadis tertentu lalu meriwayatkannya dengan sanad sendiri yang lain dari sanad ulama hadis tersebut. Kitab hadis yang dibuat dengan metode ini disebut mustakhrij. Selain itu, di masa ini lahir kitab hadis yang disebut kitab Atraf, yang menyebut hanya sebagian-sebagian dari matan atau teks hadis, kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad dari kitab hadis yang dikutip maupun dari kitab lain; kitab Mustadrak, yang menghimpun hadis-hadis yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya saja dan kitab Jami’, yang menghimpun hadis-hadis yang telah termuat dalam kitab-kitab yang telah ada.
Ulama-ulama pada periode ini memberikan perhatian besar terhadap kegiatan memperbaiki susunan kitab hadis dan mengumpulkan hadis-ha­dis yang sudah terdapat dalam kitab-kitab sebe­lumnya ke dalam sebuah kitab hadis yang lebih besar. Kitab-kitab yang masyhur hasil karya ulama abad ke-4 H antara lain: (1) al-Mu’jam al-Kabir, (2) al-Mu’jam al-Ausat, (3) al-Mu’jam as-Sagir, ketiga-tiganya karya Imam Sulaiman bin Ahmad at-Tabarani (w. 360 H), (4) Sunan ad-Daruqutni karya Imam Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad Da-ruqutni (306-385 H), (5) Sahih Abi ‘Auwanah karya Abu Auwanah Ya’qub bin Ishaq Ibrahim al-As-farayini (w. 354 H), dan (6) Sahih Ibn Khuzaimah karya Ibnu Khuzaimah Muhammad bin Ishaq (w. 316 H). Adapun kitab-kitab hadis yang lahir pada abad ke-5 H hingga akhir periode keenam ini an­tara lain: (1) as-Sunan al-Kubra karya Abu Bakar Ahmad bin Husain Ali al-Baihaki (384-458 H); (2) Muntaqa al-Akhbar karya Majdudin al-Harrani (w. 652 H); (3) Nail al-Autar, sebagai syarah kitab Muntaqa al-Akhbar, karya Muhammad bin Ali asy-Syaukani (1172-1250 H); (4) at-Targib wa at-Tarhib karya Imam Zakiyu’ddin Abdu’l-Adim al-Munziri (w. 656 H); (5) Dalil al-Falihin karya Muhammad bin Allan as-Siddiqi (w. 1057 H), sebagai syarah Kitab Riyad as-Salihin karya Imam Muhyiddin Abi Zakariya an-Nawawi (w. 676 H/1277 M).
Periode Ketujuh. Disebut ‘Ahd asy-Syarh wa al-Jam’ wa at-Takhrij wa al-Bahs (Periode Pensyarahan, Perhimpunan, Pentakhrijan atau Pengeluaran Riwayat, dan Pembahasan), mulai jatuhnya kota Baghdad sampai sekarang.
Periode ketujuh masih meneruskan beberapa kegiatan dari periode sebelumnya, di samping kegiatan-kegiatan lainnya. Penghancuran Baghdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh pasukan Hulagu Khan (656 H/1258 M) telah menggeser kegiatan di bidang hadis ke Mesir dan India. Banyak kitab hadis yang beredar di tengah-tengah masyarakat Islam berasal dari usaha penerbitan yang dilakukan oleh ulama-ulama India. Contoh dalam hal ini adalah penerbitan kitab ‘Ulum al-Hadis (Ilmu-ilmu Hadis) karya al-Hakim.
Cara penerimaan dan penyampaian hadis di masa ini juga mengalami pergeseran. Cara yang digunakan kadang-kadang berupa pemberian izin oleh seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis dari guru tersebut dan kadang-kadang berupa pemberian catatan hadis dari seorang guru kepada seseorang yang ada di dekatnya atau yang jauh, baik catatan itu dibuat sendiri oleh guru ter­sebut atau menyuruh orang lain. Cara yang pertama dikenal dengan nama ijazah, sedang yang kedua dinamai mukatabah (penulisan).
Pada periode ini tidak banyak lagi dapat dijumpai ulama-ulama hadis yang mampu menyampaikan periwayatan hadis beserta sanadnya secara hapalan yang sempurna. Kegiatan yang umum pada masa ini adalah mempelajari kitab-kitab hadis yang telah ada, mengembangkannya, dan membuat pembahasan-pembahasannya atau juga membuat ringkasan-ringkasan terhadap kitab-kitab hadis yang telah ada. Pada masa yang lebih kemudian dalam periode ini, kegiatan-kegiatan di bidang ha­dis juga berpindah ke Arab Saudi.
Kedudukan Hadis. Kedudukan hadis, terutama sebagai sumber hukum Islam, sejak zaman yang masih dini sudah dipersoalkan. Imam Syafi’i, yang digelari Nasir al-Hadis (Pembela Hadis), pernah menyebutkan adanya pendapat yang menolak hadis. Dengan kata lain, paling sedikit, ada pen­dapat yang menerima hadis yang hanya semakna dengan Al-Qur’an, yaitu hadis mutawatir. Selain hadis-hadis mutawatir, mereka enggan mengamalkannya atau bahkan menolak dengan dalih bahwa Al-Qur’an sudah cukup sebagai sumber yang bersifat universal dan umum. Karena itu, pernyataan bahwa umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang telah sepakat menerima hadis sebagai salah satu sumber hukum Islam sesudah Al-Qur’an, harus diberi catatan karena di kalangan ulama Islam juga ada yang tidak sependirian dengan kesepakatan tersebut. Mereka yang tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut, yang biasanya disebut ulama Ahlur Ra’yi (penganut pendapat), tidak menerima suatu hadis sebelum mengemukakan keterangan-keterangan Al-Qur’an yang muhkam (tidak memerlukan lagi penjelasan apa-apa). Tentu saja pendirian serupa ini tidak dapat dinilai sebagai tidak berharga karena ia lahir dari ulama-ulama kalangan Islam sendiri, bukan di luarnya.
Ulama-ulama yang menempatkan kedudukan hadis pada tingkat kedua setelah Al-Qur’an mendasarkan pendiriannya atas dalil-dalil Al-Qur’an yang artinya: “...Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah...” (QS.59:7), “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat” (QS.3:132), “...maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan dan ditimpa azab yang pedih” (QS.24:63), dan “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang-siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS.33:36).
Selain itu, para ulama juga mengemukakan alasan-alasan berikut. (1) Al-Qur’an diterima dengan jalan yang yakin atau maqtu’ bih, sedangkan hadis dengan jalan zan (syak atau curiga) atau maznun bih. (2) Hadis adakalanya menerangkan yang diijmalkan (diringkas) oleh Al-Qur’an, mensyarah Al-Quran, dan adakalanya mendatangkan apa yang belum didatangkan oleh Al-Qur’an. (3) Hadis sendiri menunjuk pada fungsinya yang demikian itu. Dalam hal ini biasanya dikemukakan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmizi mengenai Mu’az bin Jabal yang diutus oleh Nabi SAW ke Yaman. Nabi SAW bertanya kepada Mu’az dengan apa ia memutuskan perkara. Oleh Mu’az dijawab: “Dengan kitab Allah.” Jika dalam Al-Qur’an hukum tersebut tidak ditemukan, maka oleh Mu’az dijawab: “Dengan sunah Rasul.” Di samping itu, argumen-argumen logika dan pikiran digunakan pula oleh para ulama untuk menetapkan kewajiban menaati hadis Nabi SAW serta mendudukkannya pada tingkat kedua sebagai sumber hukum sesudah Al-Qur’an.

Tidak ada komentar:

ANDA INGIN SUKSES BERGABUNGLAH…………INVESTASI DI IZZY CENTRE
(Invest dengan keuntungan sangat menakjubkan)

SUDAH TERBUKTI banyak orang yang telah sukses mereka yang ikut program ini, mereka bisa membeli kaplingan tanah yang sangat luas yang berisi taman dan segala fasilitas yang diperlukan lengkap dengan hotel dan gadis cantiknya tinggal pilih seperti apa yang mereka suka, kecantikannya, kemolekannya tak akan pernah pudar selalu oke.., tidak akan pernah mereka jumpai dalam keadaan second, selalu orisinil.

Adapun fasilitas-fasilitas yang lain semua serba lengkap tak kan dijumpai sesuatu yang mereka inginkan tidak terpenuhi, selalu ada apa yang mereka inginkan dan dalam sekejap telah terhidangkan. Inilah suatu bentuk kesuksesan bukan sembarang sukses, kesuksesan yang bukan hanya dapat dini’mati di dunia yang fana’ ini yang akan hancur binasa tetapi kesuksesannya dapat dini’mati di hari ketika kita sangat membutuhkan dimana tidak ada lagi pertolongan dari siapapun kecuali dari perbuatan baik kita sendiri(amal shaleh)

Orang –orang yang telah sukses seperti Abu Bakar r.a., Umar bin Choth-thob r.a., Utsman bin Affan r.a. dan shahabat-shahabat Nabi yang lain seperti Abdurrahman bin Auf r.a. mereka adalah orang terkaya yang mempunyai tanah yang sangat luas yang dipenuhi dengan berbagai aneka macam fasilitas yang berkelas dunia akherat.Maka bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejak mereka pasti akan sukses tan tak akan di dijumpai kata gagal, karena banyak sekali isyarat-isyarat dari orang yang pernah survei taman-taman (syurga) mereka yakni baginda Rasulullah SAW yang sempat mampir disana ketika prosesi ISRA’ MI’RAJ.

sudah jelas penjelasan –penjelasan dari beliau SAW yang menerangkan tentang invest akherat yang akan mendatangkan laba/untung yang berlipat-lipat. Invest ini akan di prioritaskan untuk proyek pengadaan GENERASI ISLAM YANG MUMPUNI BERIMAN DAN BERTAKWA dari golongan yang berlatar belakang lemah(yatim/piatu/dhuafa’), dimana proyek ini akan menelan biaya milyaran rupiah.(silahkan buka IZZY CENTRE ISLAM BANGKIT ISLAM JAYA)

Bagi yang ingin Invest hub:
Ahmad Izzy Ar Rifai

0812 80 7007 42